Tidak terasa, tahu- tahu masa bakti pak Jokowi dan pak Jusuf Kalla selaku presiden dan wakil presiden RI sudah berjalan hampir lima tahun dan berarti akan berakhir. Sehingga pada tanggal 17 bulan April tahun 2019 ini akan diadakan lagi pemilu (Pilpres serentak- dengan Pilegnya sekaligus). Banyak kemajuan yang telah berhasil dilakukan oleh pemerintahan Jokowi JK. Utamanya dibidang ekonomi makro dan infrastruktur, serta uapaya pemberantasan korupsi.
Paslon presiden dan wakil presiden tahun ini yang akan bertarung di Pilpres 2019, adalah pasangan Jokowi- Ma'ruf dengan nomer urut 01 berhadapan dengan lawan paslon presiden dan wakil presiden Prabowo- Sandi dengan nomer urut 02. Masa kampanye selama 7 bulan (September 2018 - April 2019) telah dimanfaatkan dengan baik oleh kedua kubu paslon. pada beberapa bulan terakhir ini, terasa situasi politik makin menghangat, cenderung memanas. Terutama yang terjadi didunia maya. Melalui media mainstream dan media sosial. Disamping saling mensosialisasikan program masing- masing, yang paling menonjol adalah saling klaim, saling olok dan ejek. Bahkan disinyalir ada terjadi kampanye hitam dan hoax. Inilah yang mengakibatkan suasana menjadi memanas.
..bersambung...
Rabu, 20 Februari 2019
Minggu, 16 Desember 2018
Tahun 2018 Segera Berlalu
Berlalunya hari atau minggu dan bulan seperti lari saja rasanya. Kalau sudah begitu tidak bisa tidak, tahun pun pasti kan segera berganti pula. Tahun 2018 rasanya masih baru saja datang, tapi nyatanya sudah mau pergi.
Apa boleh buat, karena sang waktu sudah berputar pepak rentangan jangka waktunya. Bulan Desember merupakan bulan akhir tahun, bulan kedua belas (12). Selamat tinggal tahun 2018! Kau telah banyak mengejawantah peri kehidupan ini. Semoga semuanya kian bertambah wawasan dan kedewasaan.
Apa boleh buat, karena sang waktu sudah berputar pepak rentangan jangka waktunya. Bulan Desember merupakan bulan akhir tahun, bulan kedua belas (12). Selamat tinggal tahun 2018! Kau telah banyak mengejawantah peri kehidupan ini. Semoga semuanya kian bertambah wawasan dan kedewasaan.
Jumat, 14 September 2018
Pola Hidup Bersih dan Sehat Belum Membumi
Sore ini baru usai bersih-bersih halaman. Lhah iya masak yang namanya sampah plastik itu sebentar saja sudah berserakan, rata hampir memenuhi pelataran rumah lagi.
Padahal setiap pagi dan sore selalu dibersihkan. Disapu bersih. Jadi penasaran apa gerangan penyebabnya. Lalu ku perhatikan orang-orang yang berlalu-lalang.
Wah, pantesan saja sampah cepat muncul lhah wong kebanyakan orang-orang itu tidak perduli sama kebersihan lingkungan. Mereka yang perokok, dengan seenak udele buang bungkus rokok dan puntungnya disembatang tempat. Terus, yang senang jajanan jalanan seperti snack, cilot, atau ice cream juga begitu, ngelempar sesuka hati sampah plastiknya itu tanpa merasa bersalah.
Budaya pola hidup bersih dan sehat tampaknya masih saja belum membumi dimasyarakat kita, terutama yang tinggal di daerah pedesaan.
Padahal setiap pagi dan sore selalu dibersihkan. Disapu bersih. Jadi penasaran apa gerangan penyebabnya. Lalu ku perhatikan orang-orang yang berlalu-lalang.
Wah, pantesan saja sampah cepat muncul lhah wong kebanyakan orang-orang itu tidak perduli sama kebersihan lingkungan. Mereka yang perokok, dengan seenak udele buang bungkus rokok dan puntungnya disembatang tempat. Terus, yang senang jajanan jalanan seperti snack, cilot, atau ice cream juga begitu, ngelempar sesuka hati sampah plastiknya itu tanpa merasa bersalah.
Budaya pola hidup bersih dan sehat tampaknya masih saja belum membumi dimasyarakat kita, terutama yang tinggal di daerah pedesaan.
Rabu, 03 Januari 2018
Kualitas Kuantitas dan Semangat ( KKS )
Setiap kegiatan tertentu yang dilaksanakan seyogyanya tidak asal sudah dikerjakan. Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa apakah hasil capaiannya bisa diukur oleh parameter atau kreteria hasil yang digunakan untuk menilai atau mengukur suatu kegiatan tertentu tersebut. Dengan kata lain bahwa setiap langkah kegiatan yang kita lakukan harus memiliki tingkat capaian standar kualitas nya. Inilah yang dimaksud dengan akronim 'K' yakni: Kualitas, pada judul tulisan ini. Sehingga kegiatan termaksud memiliki kualitas yang baik dan akan menjadi batu pijak yang kokoh bagi kegiatan berikutnya.
Apabila suatu kegiatan dipandang telah memiliki kualitas atau standar mutu yang baik maka ini harus tetap dipertahankan. Dan bahkan langkah selanjutnya adalah dikalikan sepuluh atau seratus dan seterusnya. Disinilah akronim 'K' yang kedua: Kuantitas, berperan. Jadi setiap kegiatan kita semua menjadi bermutu. Tidak ada lagi istilah berkegiatan atau melakukan suatu tugas kerja secara asalan. Satu contoh ringan, misalnya tugas menyapu rumah. Ini musti dikerjakan dengan baik dan benar. Tidak asal mengayuhkan gagang sapu. Kata orang jawa hasilnya supaya tidak 'korep', haha. Maksudnya menyapunya itu belang-belang, tidak bersih.
Satu tahap lagi yang kudu ditempuh, yakni akronim ketiga dari judul tulisan ini: 'S'- Semangat, maksudnya adalah bahwa setelah satu kegiatan dapat dilakukan dengan baik dan bermutu, lalu juga kegiatan lain berikutnya, dilakukan sama baik dan mutunya; sampai disini dibutuhkan semacam bahan bakarnya,yakni: Semangat.
Jadi lengkaplah sudah, ketiga tahapan tentang bagaimana kiatnya agar kita dapat melaksanakan kegiatan atau tugas kerja dengan penuh semangat dan berkualitas baik mutu hasilnya.
Apabila suatu kegiatan dipandang telah memiliki kualitas atau standar mutu yang baik maka ini harus tetap dipertahankan. Dan bahkan langkah selanjutnya adalah dikalikan sepuluh atau seratus dan seterusnya. Disinilah akronim 'K' yang kedua: Kuantitas, berperan. Jadi setiap kegiatan kita semua menjadi bermutu. Tidak ada lagi istilah berkegiatan atau melakukan suatu tugas kerja secara asalan. Satu contoh ringan, misalnya tugas menyapu rumah. Ini musti dikerjakan dengan baik dan benar. Tidak asal mengayuhkan gagang sapu. Kata orang jawa hasilnya supaya tidak 'korep', haha. Maksudnya menyapunya itu belang-belang, tidak bersih.
Satu tahap lagi yang kudu ditempuh, yakni akronim ketiga dari judul tulisan ini: 'S'- Semangat, maksudnya adalah bahwa setelah satu kegiatan dapat dilakukan dengan baik dan bermutu, lalu juga kegiatan lain berikutnya, dilakukan sama baik dan mutunya; sampai disini dibutuhkan semacam bahan bakarnya,yakni: Semangat.
Jadi lengkaplah sudah, ketiga tahapan tentang bagaimana kiatnya agar kita dapat melaksanakan kegiatan atau tugas kerja dengan penuh semangat dan berkualitas baik mutu hasilnya.
Selamat Tinggal Tahun 2017, Selamat Datang Tahun 2018
Waktu terus berjalan, Menit ke menit, jam ke-jam, hari ke- hari. Minggu, Bulan, dan Tahun. Berlalu dan melaju tanpa kompromi atsu menoleh kekiri dan kekanan.
Selama satu tahun di 2017, banyak sekali hal yang telah terjadi. Kejadian dan atau peristiwa yang menggembirakan dan menyedihkan silih berganti dialami. Kesemuanya menjadi pengalaman dan pelajaran yang amat berharga guna perbaikan kualitas dimasa- masa waktu atau tahun berikutnya. Selamat Tinggal Tahun 2017! Dan Selamat Datang Tahun 2018!
Tahun kemarin menjadi kenangan dan cermin kehidupan bagi langkah kegiatan di tahun 2018, sekarang. Semoga kinerja akan menjadi lebih baik hasilnya. Amin.
Semoga..
Selama satu tahun di 2017, banyak sekali hal yang telah terjadi. Kejadian dan atau peristiwa yang menggembirakan dan menyedihkan silih berganti dialami. Kesemuanya menjadi pengalaman dan pelajaran yang amat berharga guna perbaikan kualitas dimasa- masa waktu atau tahun berikutnya. Selamat Tinggal Tahun 2017! Dan Selamat Datang Tahun 2018!
Tahun kemarin menjadi kenangan dan cermin kehidupan bagi langkah kegiatan di tahun 2018, sekarang. Semoga kinerja akan menjadi lebih baik hasilnya. Amin.
Semoga..
Selasa, 04 Agustus 2015
Ejekan dan Cemo'ohan Terhadap Presiden
Orang hidup dalam perjalanannya mengalami beragam godaan dan cobaan. Dimulai dari orang biasa sampai ke-orang yang disebut orang penting seperti Mentri atau bahkan presiden sekalipun. Belakangan ini mencuat pernyataan dari Wapres Jusuf Kalla (JK), yang banyak menyedot perhatian masyarakat.
Pasalnya, JK melalui mass media mengatakan bahwa masyarakat diharap berhati-hati dalam berkata-kata tentang diri sang presiden, utamanya tulisan di media sosial. Dimaksudkan agar warga tidak melakukan ejekan, cemo'ohan, ataupun penghinaan terhadap diri presiden Jokowi. Karena menurutnya bisa berujung masuk bui.
Kemudian pemerintah mengajukan usulan Revisi UU KUHP, khususnya untuk menghidupkan kembali pasal-pasal yang berkaitan dengan penghinaan kepada presiden. Diwaktu yang lalu --saat Ketua Mahkamah Konstitusi di jabat oleh pak Jimly-- telah dicabut dengan alasan bahwa pasal tersebut sudah tidak sesuai, karena membatasi kebebasan berpendapat.
Dikabarkan juga hari ini DPR menolak usulan revisi tersebut. Maka makin ramailah orang yang berpolemik tentang masalah pasal penghinaan ini.
Sementara itu Mentri Dalam Negeri, Cahyo Kumolo menegaskan niatnya untuk tetap mengajukan Revisi UU KUHP. Sebab menurutnya presiden adalah pemimpin kita. Kepala Negara yang harus di hormati. Bukan dengan seenaknya bisa diejek atau dihina oleh sembarang orang tanpa kendali. Bahkan disebutkan olehnya bahwa presiden itu lambang negara.
Hmm.. atas adanya pernyataan-pernyataan pak Cahyo Kumolo itu, muncul reaksi-reaksi beragam di kalayak ramai khususnya di sosial media. Disebutkan antara lain jika tidak mau di kritik janganlah jadi pemimpin. Lalu di sanggah dengan pernyataan mengkritik dan menghina itu ada bedanya. Sehingga akibatnya seakan antara kata meng-kritik dan meng-hina menjadi rancu pengertiannya. Batasan dari nuansa mengkritik atau menghina menjadi kabur.
Dilain fihak bagi presiden sendiri menyatakan bahwa ejekan, cemo'ohan ataupun penghinaan sudah merupakan makanan sehari-hari. Keadaan ini dialami sejak masih menjadi Wali Kota Solo sampai dengan hari ini saat menjabat menjadi Presiden Republik Indonesia. "Kalau saya bisa saja menuntut, tapi nanti yang kena bisa ribuan, maka hal itu tidak saya lakukan," demikian kata pak Jokowi dalam suatu kesempatan jumpa pers.
Terlepas dari semua pembicaraan diatas, maka bagi kita yang mungkin masih memiliki rasa-roso yang utuh dan netral, kiranya hal-hal demikian ini tidak usahlah dipertajam menjadi sesuatu yang terasa menghebohkan. Yang penting semua fihak harusnya tetap memiliki rasa "tepo seliro." Jika tidak mau disakiti maka janganlah menyakiti orang lain.
Jati diri dan kepribadian bangsa yang luhur mari dipertahankan. Kita adalah bangsa yang santun. Penuh hormat terhadap sesama. Apalagi kita dikenal sebagai bangsa yang religius. Jadi semua fihak harus tetap pada kontrolnya masing-masing. Hidup berdampingan secara rukun dan damai.
Pasalnya, JK melalui mass media mengatakan bahwa masyarakat diharap berhati-hati dalam berkata-kata tentang diri sang presiden, utamanya tulisan di media sosial. Dimaksudkan agar warga tidak melakukan ejekan, cemo'ohan, ataupun penghinaan terhadap diri presiden Jokowi. Karena menurutnya bisa berujung masuk bui.
Kemudian pemerintah mengajukan usulan Revisi UU KUHP, khususnya untuk menghidupkan kembali pasal-pasal yang berkaitan dengan penghinaan kepada presiden. Diwaktu yang lalu --saat Ketua Mahkamah Konstitusi di jabat oleh pak Jimly-- telah dicabut dengan alasan bahwa pasal tersebut sudah tidak sesuai, karena membatasi kebebasan berpendapat.
Dikabarkan juga hari ini DPR menolak usulan revisi tersebut. Maka makin ramailah orang yang berpolemik tentang masalah pasal penghinaan ini.
Sementara itu Mentri Dalam Negeri, Cahyo Kumolo menegaskan niatnya untuk tetap mengajukan Revisi UU KUHP. Sebab menurutnya presiden adalah pemimpin kita. Kepala Negara yang harus di hormati. Bukan dengan seenaknya bisa diejek atau dihina oleh sembarang orang tanpa kendali. Bahkan disebutkan olehnya bahwa presiden itu lambang negara.
Hmm.. atas adanya pernyataan-pernyataan pak Cahyo Kumolo itu, muncul reaksi-reaksi beragam di kalayak ramai khususnya di sosial media. Disebutkan antara lain jika tidak mau di kritik janganlah jadi pemimpin. Lalu di sanggah dengan pernyataan mengkritik dan menghina itu ada bedanya. Sehingga akibatnya seakan antara kata meng-kritik dan meng-hina menjadi rancu pengertiannya. Batasan dari nuansa mengkritik atau menghina menjadi kabur.
Dilain fihak bagi presiden sendiri menyatakan bahwa ejekan, cemo'ohan ataupun penghinaan sudah merupakan makanan sehari-hari. Keadaan ini dialami sejak masih menjadi Wali Kota Solo sampai dengan hari ini saat menjabat menjadi Presiden Republik Indonesia. "Kalau saya bisa saja menuntut, tapi nanti yang kena bisa ribuan, maka hal itu tidak saya lakukan," demikian kata pak Jokowi dalam suatu kesempatan jumpa pers.
Terlepas dari semua pembicaraan diatas, maka bagi kita yang mungkin masih memiliki rasa-roso yang utuh dan netral, kiranya hal-hal demikian ini tidak usahlah dipertajam menjadi sesuatu yang terasa menghebohkan. Yang penting semua fihak harusnya tetap memiliki rasa "tepo seliro." Jika tidak mau disakiti maka janganlah menyakiti orang lain.
Jati diri dan kepribadian bangsa yang luhur mari dipertahankan. Kita adalah bangsa yang santun. Penuh hormat terhadap sesama. Apalagi kita dikenal sebagai bangsa yang religius. Jadi semua fihak harus tetap pada kontrolnya masing-masing. Hidup berdampingan secara rukun dan damai.
Label:
Budaya,
Humaniora,
Leadership,
Politik,
Presiden Jokowi JK,
Sosial
Jumat, 10 Juli 2015
Rindu Makan Ketupat Fitri
Bagi masyarakat perkotaan makan Ketupat hari raya Fitri sangat terasa nikmatnya. Kenapa? Mungkin karena di daftar menu hariannya jarang terdaftar. Baru dibuat kalau pas hari raya saja. Lain halnya kalau masyarakat di pedesaan, hampir tiap bulan selamatan. Jadi Lontong atau ketupat pasti dibuat.
Bicara masalah makanan ketupat, aku jadi teringat masa-masa lalu. Dimana ada seorang teman yang sepertinya acara makan ketupat ini di sakral-kan sekali. Bagaimana tidak, waktu jelang hari raya kurang satu, aku sudah diteleponnya. Diwanti-wanti, diharap datang keesokan harinya pagi-pagi sekali.
Dan pada saat aku sungguh datang pada pagi hari besoknya, sekira pukul 07.30, ternyata temanku ini, sebut saja namanya Ibu Fatma (nama samaran) sudah menyiapkan makanan ketupat untukku. Diatas meja makan yang rapi dan bersih di ruang makannya, tampak olehku ditata rapi Ketupat dan Lontong itu. Kemudian ada bumbu petis dan telurnya. Ikan ayam goreng kampung. Dia bilang: "Monggo dimakan yang banyak,dihabiskan ya," suaranya terdengar sumanak (penuh kekeluargaan).
Dasar aku sudah rindu makan ketupat, maka kusembelih beberapa buah ketupat dan satu Lontong. Porsi piringku jadi gemuk sekali. Amber bahasa jawanya. Hahaha.... kusantap dengan mantap ketupat dan ikan-iakannya. Terasa nikmat betul. Apalagi rasa bumbu petisnya... aduhh mak, lezatnya. Tidak berapa lama kenyanglah sudah perutku. Puas sekali.
Ibu Fatma hanya senyum-senyum saja melihat tingkah polahku waktu makan. Seperti orang tidak pernah makan ketupat saja. Hehe.. emang jarang koq makan ketupat. Rakus sekali jadinya. Tapi Ibu Fatma dan keluarganya ikut lega dan puas juga karena bisa menjamu temannya disaat yang tepat. Diwaktu hari raya Fitri yang ceria dan berbahagia.
Ternyata makan ketupat dihari raya Fitri itu lain sekali suasana dan rasanya. Kalau makan ketupat di orang jual rujak rasanya seperti biasa saja. Mungkin karena kurang seremonial kale ya. Begitulah, bahwa ketupat Fitri lebih nikmat dari ketupat biasa. Hehehe.... koq bisa ya.
Hebatnya, acara ini dulu tiap tahun berlangsung, dimana pasti aku diundangnya kerumahnya. Tidak afdol katanya kalau belum mengundang teman kerumahnya untuk acara makan ketupat Fitri.
Sekarang, seiring waktu berjalan aku sudah jarang bertemu dengan Ibu Fatma dan keluarganya. Terutama setelah sepeninggal suaminya yang wafat karena sesuatu sakit yang dideritanya. Semua tinggal didalam kenanganku. Kebaikan hati ibu Fatma dan keluarganya tidak akan pernah terlupakan seumur hidupku.
Bicara masalah makanan ketupat, aku jadi teringat masa-masa lalu. Dimana ada seorang teman yang sepertinya acara makan ketupat ini di sakral-kan sekali. Bagaimana tidak, waktu jelang hari raya kurang satu, aku sudah diteleponnya. Diwanti-wanti, diharap datang keesokan harinya pagi-pagi sekali.
Dan pada saat aku sungguh datang pada pagi hari besoknya, sekira pukul 07.30, ternyata temanku ini, sebut saja namanya Ibu Fatma (nama samaran) sudah menyiapkan makanan ketupat untukku. Diatas meja makan yang rapi dan bersih di ruang makannya, tampak olehku ditata rapi Ketupat dan Lontong itu. Kemudian ada bumbu petis dan telurnya. Ikan ayam goreng kampung. Dia bilang: "Monggo dimakan yang banyak,dihabiskan ya," suaranya terdengar sumanak (penuh kekeluargaan).
Dasar aku sudah rindu makan ketupat, maka kusembelih beberapa buah ketupat dan satu Lontong. Porsi piringku jadi gemuk sekali. Amber bahasa jawanya. Hahaha.... kusantap dengan mantap ketupat dan ikan-iakannya. Terasa nikmat betul. Apalagi rasa bumbu petisnya... aduhh mak, lezatnya. Tidak berapa lama kenyanglah sudah perutku. Puas sekali.
Ibu Fatma hanya senyum-senyum saja melihat tingkah polahku waktu makan. Seperti orang tidak pernah makan ketupat saja. Hehe.. emang jarang koq makan ketupat. Rakus sekali jadinya. Tapi Ibu Fatma dan keluarganya ikut lega dan puas juga karena bisa menjamu temannya disaat yang tepat. Diwaktu hari raya Fitri yang ceria dan berbahagia.
Ternyata makan ketupat dihari raya Fitri itu lain sekali suasana dan rasanya. Kalau makan ketupat di orang jual rujak rasanya seperti biasa saja. Mungkin karena kurang seremonial kale ya. Begitulah, bahwa ketupat Fitri lebih nikmat dari ketupat biasa. Hehehe.... koq bisa ya.
Hebatnya, acara ini dulu tiap tahun berlangsung, dimana pasti aku diundangnya kerumahnya. Tidak afdol katanya kalau belum mengundang teman kerumahnya untuk acara makan ketupat Fitri.
Sekarang, seiring waktu berjalan aku sudah jarang bertemu dengan Ibu Fatma dan keluarganya. Terutama setelah sepeninggal suaminya yang wafat karena sesuatu sakit yang dideritanya. Semua tinggal didalam kenanganku. Kebaikan hati ibu Fatma dan keluarganya tidak akan pernah terlupakan seumur hidupku.
Label:
Budaya,
Hari Raya Fitri,
Humaniora,
Keluarga,
lucu
Langganan:
Postingan (Atom)