Tampilkan postingan dengan label metoto nyeplos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label metoto nyeplos. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Juni 2022

Heran Juga Sama Si Dia yang Cerdas

Ini boleh dikata termasuk langka. Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Ada seorang teman-lah, yang menurut hematku Dia begitu cerdas. Padahal pendidikan sekolahnya sangat minim. 

Dia itu, tentang filosofi kehidupan sangat luas cakrawala pemikirannya. Kok bisa ya.. ck ck ck...  Apalagi tentang kehidupan keagamaan-nya, tebal dan super sekali, bak Ulama Unggulan. 

Ku melihat, rupanya dia itu mudah sekali bergaul dan belajar pada keadaan sekelilingnya. Gaya bicaranya mantap dan akurat. Suka menghafal apa saja yang bermanfaat. Orang Jawa bilang, 'Isoan'. Dibilangi sedikit aja sudah ngerti dan bisa menerapkan.   

Minggu, 26 September 2021

Berteman dengan Sang Malam

Orang bilang jikalau malam hari kurang tidur adalah tidak baik. Ya, saya setuju dengan itu. Sebab, jelas ini akan membuat fisik atau si tubuh kurang istirahat. Keesokan hari nya akan molor bangunnya. Itu kalau tidurnya larut malam lo. Tapi semisal, tidak tidur lalu terusan bekerja pagi. Wah.., bisa sempoyongan karena mengantuk. 

Namun demikian, bagi orang- orang tertentu.. justru kita dibuat heran. Mereka malah jarang tidur sore- sore, bahkan tidak tidur semalaman. Entahlah padahal kelihatannya tidak tidurnya itu bukan untuk melakukan sesuatu yang tampak penting --dari pandangan mata-- sepertinya ya biasa- biasa saja. Cuman duduk- duduk, atau baca- baca, atau ngobrol dengan beberapa temannya. Malah ada yang hanya berdiam diri, duduk sendirian tapakur sampai berjam- jam. 

Saya jadi ingat dengan orang yang mengatakan kepada saya dulu. Katanya, tidak tidur malam itu biasa dilakukan oleh orang- orang yang memang sudah terlatih. Sudah bisa melawan 'Bioritmik'. Bahwa kita tidak tahu kapan ia tidur, baik siang atau malam hari. Tapi tetap tampak energik.

Mungkin, karena apa ya.. kok bisa betah melek gitu. Nah malam ini tadi, saya nyoba konsep atau buat redaksi untuk auto sugesti. Sekaligus saya buat judul tulisan atau coretan ini. Echh.. jadinya tidak ngantuk dan enjoy sampai pukul 04. 45 WIB ini. Badan tidak capai apalagi ngantuk, tidak sama sekali. 

Percobaan ini tentu nggak boleh sembarang ditiru loh ya. Karena prosesnya panjang dan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa melakukannya. Rupanya orang yang bilang sama saya tersebut diatas menular ilmunya, haha.. ilmu melek malam. *

Senin, 19 Januari 2015

Ribut Jadi Ciri Sistem Demokrasi

Inilah konsekwensi dari menganut sistem demokrasi. Tidak usah kaget dengan keadaan yang ribut terus. Sedikit-sedikit ribut, ricuh, turun jalan. Ramai-ramai berdemontrasi dan melakukan aksi orasi ditempat terbuka.

Memang lalu terkesan kacau balau keadaannya. Semrawut, tidak keruan alur yang hendak dicapai. Namun biasanya kemudian semua kejadian mengendap. Bagai air yang jernih kena aduk menjadi keruh. Kemudian air ditenangkan dan menjadi jernih kembali. Biasanya kejernihan setelah itu terasa lebih hidup, lebih sehat.

Demikian pula keadaan dinegeri ini. Gaduh politik. Kisruh politik. Keadaan menjadi menghangat. Kalau perlu memanas sedikit. Haha... kayak buat masakan itu, diberi bumbu yang pedas agar lebih mantap dan nyaman.

Seperti baru-baru ini, pemerintah mau milih ketua MK ribut, mau memilih Ketua KPK ribut, mau memilih Kepala Polisi ribut, bahkan nanti kalau ada musim pilihan gubernur, bupati, kades.. bisa diprediksi akan ribut dan ribut lagi.

Begitulah kalau menganut sistem demokrasi. Tidak enak memang kisruh terus. Sebagian orang jadi jenuh dan bosen dengan sistem ini. Lalu merindukan gaya pengaturan yang streng. Yang otoriter asal stabil sehingga kehidupan sosial ekonomi tampak agak lebih tenang. Namun meskipun sistem demokrasi itu dianggap jelek mungkin, tapi menurut para ahli dan pengamat menilai bahwa sistem demokrasi tetap jadi pilihan terbaik. Ini dibanding dengan sistem Monarki atau sistem-sistem lainnya yang terjadi sebelum jaman demokrasi merebak seperti sekarang.

Jadi se tak enak-enaknya sistem demokrasi masih yang paling enak. haha... ya seperti rasa masakan tadi. Pedas tapi dicari. Hmmm.....

Jadi kesimpulannya, kita tidak usah kaget atau heran atau jenuh atau muak dengan sistem demokrasi seperti yang kita anut sekarang. KIta patut bersyukur dengan penjaminan kebebasan berbicara dan atau berpendapat. Hak-hak individu didengar dan diberi perhatian khusus secukupnya. Dibanding dengan sistem lain yang membungkam hak individu untuk bisa hidup lebih enjoy dan nyaman.

Kamis, 04 Desember 2014

Sepi dan Dingin yang Tidak Sepi dan Dingin

Mau nyelotehin apa ya dilarut malam yang dingin dan sepi ini. Hehe, rupanya cuman dalam hati aja deh. Karena meski nyelotehpun tetap aja sepi. Sepinya malam yang dingin. Dinginnya malam yang sepi.
Tapi sebenarnya tidak sepi benar sebab bunyi burung dalam sangkar gencar, alarm beberapa Hp pada bersaing, kokok ayam jantan bersautan. Dan dinginpun sudah ditangkal oleh selimut tebal yang berbulu. Jadi tidak ada alasan untuk berkata sepi dan dingin, walau keadaan dirasa sepi dan dingin.

Rabu, 27 Juli 2011

Kakak Beradik Poniman dan Ponimin

Setiap hari kedua bersaudara ini, layaknya dua orang sahabat. Kemana pergi selalu bersama. Kali ini mereka sedang duduk- duduk diteras rumah sambil minum kopi. Hawa diluar rumah terasa sejuk. Matahari mulai condong kebarat. Pada sore hari ini mereka tampak santai.

Poniman duduk bersila diatas tikar bututnya. Menghadap halaman depan yang penuh dengan Bunga- bunga lokal. Sebagai saudara tua umurnya dua tahun lebih tua dari Ponimin, adiknya yang berpenampilan bak seorang seniman. Karena rambutnya yang panjang tergerai dibahunya, yang kini duduk dibibir teras disebelahnya. Mereka duduk bersila berhadap- hadapan.

Keduanya asyik membicarakan masalah situasi yang makin menghangat saja, yaitu tentang apalagi kalau tidak masalah gegernya para elit politik dinegeri ini. Dialog pembicaraan mereka antara lain sebagai berikut.

Poniman : Min menurut kamu sekarang bagaimana!
Ponimin : Apanya yang bagaimana Man!
Poniman : Oh ya.. itu lho, tentang rencana Pelaksanaan Pemilu 2014. Apa bisa fair ya?
Ponimin : Ach, masih lama Man pemilunya.
Poniman : Lhoh .. kamu nih gimana! Partai Baru dah bermunculan. Siap- siap ikut pemilu.
Ponimin : Biar aja. Kita kan bukan anggota partai manapun juga. Kita cuma orang desa, tani.
Poniman : Iya juga sih! Tapikan kita juga harus mikir- mikir kemana nanti aspirasi kita berikan.
Ponimin : Tuk apa dipikirin. Lha wong semua partai sama saja. Semua kisruh sama sendirinya.
Poniman : Tapi kan ada partai baru nih, seperti Nasdem, Nasreb, dan lain- lainnya.
Ponimin : Tak urus, walau ada partai Nazir! Apa tuh Nazaruddin.. ya ya, yang lari keluar negeri.
Poniman : Iya knapa dengan dia! Nasar- nasar ngga keruan ya. Itukan membela diri dia!
Ponimin : Membela diri apaan! Kalau memang dia benar, knapa datanya tak dikirim ke KPK aja.
Poniman : Ya.. akhirnya kan nanti dikirim kesana juga. Biar masyarakat tahu dan rame dulu.
Ponimin : Ya ngga bisa begitulah. Kan nanti bisa dikatakan fitnah.

Demikianlah antara lain, debat dua saudara kandung yang sama- sama suka dan pedulinya mengikuti perkembangan situasi politik di negeri Ratna Mutu Manikam ini. Untuk cerita lebih lanjut tentang apa saja yang diperbincangkan, akan dimuat lagi diwaktu yang akan datang. Ya, di Blog Celoteh- celoteh ini.

Jumat, 19 September 2008

Keadilan Hukum yang Semu

Secara konseptual hukum kita sudah baik, namun secara operasional masih jauh dari harapan. Begitu kata salah seorang ahli hukum menegaskan dalam diskusi interaktifnya disebuah radio lokal kota Jember, kemaren. Produk hukum sudah banyak dan yang baru lahir juga terus bertambah. Tetapi mengapa keadilan masih ramai dirumorkan. Salah satunya dan bahkan terbesar disebabkan oleh karena personilnya yang tidak dapat melaksanakan dengan sebenarnya. Human eror. Walhasil masyarakat menilai ada yang tidak beres dalam proses peradilannya.

Banyak contoh kasus yang menjadi sorotan masyarakat, namun dimata awam hal itu tampak biasa- biasa saja sementara ini. Lain halnya yang dirasakan oleh pengamat dan praktisi hukum. Mereka secara sporadis melakukan diskusi- diskusi mencari dan menggali keingin tahuannya bahwa apakah kejanggalan yang dirasakan selama ini benar- benar oleh karena peradilan yang dijalankan telah berjalan dengan sebenarnya? Atau memang karena belum berjalan secara objectif? Masih dirasa semu?

Diberitakan bahwa kemandirian hakim banyak diintervensi oleh fihak- fihak yang kurang bertanggungjawab, termasuk yang mencari keadilan itu sendiri. Hakim di- iming- imingi sejumlah uang. Mengakibatkan goyahnya kemandirian yang objectif dari hakim dalam memutus perkara. Bahkan dikatakan ada semacam mafia dalam prosesnya.

Melihat gambaran sekilas yang telah dipaparkan diatas, betapa fatalnya keadaan itu karena terjadi ditengah- tengah keadaan negeri yang sedang membangun pencitraan keadilan kemanusiaan yang adil dan beradab. Padahal reformasi telah berjalan sepuluh tahunan. Masih membutuhkan berapa tahun lagi agar kita dapat terlepas dari kemelut carut marutnya pelaksanaan peraturan hukum ini? Atau memang mungkin harus semu? Karena apabila dibuat nyata akan banyak orang bersalah dan mengakibatkan cepat penuhnya penghuni Hotel Prodeo?

Minggu, 07 September 2008

Ngobrol Santai tentang Demokrasi

Pada saat santai dua orang lelaki yang tampaknya saling akrab ngobrol masalah keadaan sosial- ekonomi yang akhir- akhir ini lebih banyak menghiasi halaman media cetak ataupun elektronika. Ujung- ujungnya diskusi santai yang lebih tepatnya disebut obrolan asal nyeplos kedua orang tersebut bermuara kepada soal pengertian 'demokrasi'.

Nama kedua orang tersebut Te dan Ag. Latar belakang pendidikan saling berbeda. Te seorang otodidak dalam banyak bidang kehidupan, dan Ag seorang jebolan Fak. Sospol- Unbraw Malang dan aktivis sebuah partai yang beraliran moderat. Mereka setiap hari saling bertemu dan pergi jalan- jalan melihat aktivitas warga disekeliling tempat tinggalnya.

Sebagai seorang aktivis dari kalangan muda Ag termasuk orang yang diperhitungkan wacananya. Hanya sayangnya dari kalangan tua kurang suka dengan wacananya yang dianggap tidak masuk akal. Dianggap terlalu berani dan terlalu melompat dari keadaan masyarakatnya. Akibatnya ketika mencalonkan diri sebagai caleg pada periode 2004 yang baru silam, Ag masuk kelompok nomor urut cadangan alias pupuk bawang.

Semisal jika membicarakan teori ekonomi misalnya, Ag memberikan contoh sistem demokrasi yang diterapkan di Amerika Serikat dimana menganut sistim dua partai, yaitu Partai Republik dan Partai Demokrat. Ag menyatakan bahwa apabila keadaan ekonomi negara merosot atau menurun maka dapat dipastikan yang memerintah adalah presiden dari Partai Republik dan apabila keadaan ekonomi negara yang sudah meningkat tinggi namun kurang terjadi pemerataan maka dapat dipastikan yang memerintah adalah presiden dari Partai Demokrat.

"Disana itu warganya rata- rata sudah memiliki Nation State yang baik, sehingga apabila ada masalah besar menimpa bangsanya maka masalah perbedaan lain dikesampingkan dahulu dan mengutamakan kepentingan bangsa. Kontribusi setiap warga nyata betul. Semua itu karena mereka sudah mapan Sumber daya manusianya," Ag menambahkan.

bersambung...