Tampilkan postingan dengan label BBM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BBM. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Mei 2015

Biasakan Beli BBM Mahal

Baru-baru ini ada pejabat yang memberi nasehat seperti kata-kata yang tertera di judul tulisan ini. Hehe.., mau tidak mau harus mau beli BBM mahal. Kalau tidak motor atau mobil kan tidak bisa jalan. Tapi masalahnya bukan pada dibeli atau tidak, melainkan tentang maksud dibalik nasehat tersebut. Apa kira-kira ya makna yang terkandung dibalik nasehat itu?

Mungkin untuk menyiapkan mental warga agar terbiasa dengan gejolak turun-naiknya harga BBM dipasaran. Sebab harga BBM di Indonesia sudah tidak stabil lagi seperti dulu ketika Subsidinya belum dicabut oleh pemerintah Jokowi JK. Dulu kan ada penahannya, walau harga minyak dunia naik, tetap saja murah didalam negeri. Tak lain berkat Subsidi BBM oleh pemerintah yang tetap bersikukuh tidak mengubah harga demi kepentingan warga masyarakatnya.

Dengan membiasakan mau membeli BBM mahal --BBM tanpa Subsidi-- maka secara langsung atau tidak langsung, masyarakat telah membantu pemerintah menghemat APBN yang ada, yang katanya defisit itu. Agar dengan begitu pemerintah bisa mempunyai kemampuan untuk melaksanakan rencana pembangunan di bidang lain-lainnya yang juga dianggap penting. Misalnya pembangunan infrastruktur, pembangunan dibidang pendidikan, juga pembangunan dibidang kesehatan. Dan pula tidak kalah pentingnya adalah untuk memberikan bantuan langsung tunai kepada warga pra sejahtera, warga miskin. Bagus sekali konsep ini memang.

Pada kenyataan berjalan apa yang terjadi? Banyak dampak masalah yang timbul akibat dari kebijakan tersebut. Terutama terhadap melonjaknya ongkos-ongkos transportasi dan harga-harga bahan sembako. Jadi sebenarnya warga tidak hanya dibiasakan untuk membeli BBM dengan harga mahal, namun juga dibiasakan untuk membeli jasa transportasi dan bahan sembako dengan harga tinggi pula.

Sementara itu, berita tentang pencurian minyak mentah tersiar kemana-mana jadi topik hingar bingar sampai sekarang. Katanya ada Mafia Migas. Pemerintah rupanya berniat memberantas kejahatan ini dengan tidak pandang bulu. Tetapi sejauh ini masih belum ada kabar yang jelas tentang seberapa jumlah besaran dana milik negara yang bisa diselamatkan.

Waktu terus berputar dan keadaan terus berjalan dengan segala perubahan dan suka dukanya. Warga masyarakat nurut dan berdiam diri. Apa yang telah menjadi ketentuan pemerintah dijalanai. Meskipun terasa pahit dan getir. Meskipun beban kebutuhan hidup terasa lebih berat. Rata- rata semua diam. Hanya bisa menghela nafas panjang berkali-kali.

Ketika bulan Mei 2015 tiba, tidak dinyana kemudian ada demonstrasi atau unjukrasa damai dari seluruh elemen Mahasiswa seluruh Indonesia. Menyuarakan aspirasinya mewakili warga yang notabene dalam hal ini adalah keluarganya, para orang tuannya yang membiayai sekolahnya. Para orang tua atau warga masyarakat yang menjadi Kepala Keluarga merasa tertekan dengan adanya saran untuk membiasakan diri membeli barang-barang kebutuhan dan ongkos-ongkos yang mahal.

Nah, sekarang bisa dirasakan bahwa apakah kebijakan agar masyarakat mau mengerti dan bersedia menderita dengan harga-harga yang terus membubung tinggi adalah kebijakan yang tepat dan efektif? Sementara itu kegiatan ekonomi makro dilaporkan BPS keadaan laju ekonomi Indonesia, mengalami pelambatan, target masih berada dikisaran 4,7% (Bloomberg Tv) mari kita simak bersama-sama.

Jumat, 23 Januari 2015

Antara Naik Turunnya Harga BBM dan Kepanikan Masyarakat

Ketika diawal Januari 2015 lalu BBM Subsidi dinaikkan harganya oleh pemerintah, masyarakat hanya bisa mengusap dada. Misalnya seperti Premium yang tadinya Rp.6500,- dinaikkan menjadi Rp.8500,- per liter. Lalu harga di Kios-kios eceran dijual antara Rp.9000,- sampai dengan Rp.10.000,- per liter. Dan stok atau distribusi BBM kadang langka yang akibatkan paniknya masyarakat. Bila distribusi BBM datang lain lagi masalahnya, yakni terjadi antri panjang si SPBU.

Harga-harga sembilan bahan pokok (Sembako) dan ongkos angkutan (Transportasi) umum ikut merambat naik. Masyarakat harus menyesuaikan diri dengan harga-harga Sembako dan BBM yang relatif mahal. Yang penghasilan pas-pasan kudu mengencangkan ikat pinggang rapat-rapat. Makan tiap hari sambil dihantui kekhawatiran sewaktu-waktu kehabisan bahan dan belum bisa membelinya kembali. Hahahh...

Padahal setelah dikeluarkannya kebijakan untuk menaikkan BBM bersubsidi, tidak lama kemudian dalam hitungan hari harga minyak mentah dunia menurun drastis. Sedangkan harga di dalam negeri malah kebalikannya menaik harganya. Keadaan yang timpang inilah kemudian pemerintah mendapatkan kritik-kritik pedas dari berbagai kalangan. Sempat menjadi polemik. Untuk mengatasi gejolak atau kegelisahan atau kepanikan masyarakat lalu ada upaya-upaya untuk menjelaskan dan memberi motivasi kepada masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah dengan mengatakan bahwa jangan takut membeli BBM mahal seperti orang di Papua itu. Pokoknya penyuluhan itu tujuannya untuk mengubah anggapan masyarakat tentang harga BBM yang mahal menjadi hal biasa yang perlu dihadapi.

Oleh karena harga minyak dunia sampai dengan minggu kedua bulan Januari 2015 menunjukkan penurunan terus, maka ada wacana pemerintah untuk menurunkan kembali harga satuan BBM bersubsidi. Ternyata memang benar pada beberapa hari lalu, harga diturunkan. Harga Premium Rp.8500,- diturunkan kembali menjadi Rp.6600,- per liter. Sampai disini masyarakat agak kaget juga mendengarnya, karena tadinya tidak menyangka akan secepat itu turunnya. Tapi namanya BBM turun harga, ya kagetnya itu cepat berubah menjadi semacam kegembiraan dan kelegaan rasa yang selama ini merasa tertekan juga dengan isu-isu BBM ini. Maka sampai dengan hari ini catatan ini dibuat harga tetap turun lagi, yaitu Rp.6600,- per liter utk Premium.

Namun kenyataannya, dengan harga yang sudah diturunkan ini yang semestinya bisa menjadi suatu penghiburan bagi masyarakat umum pengguna BBM untuk kegiatannya sehari-hari, belum merasakan kegembiraan tersebut. Loh.., ada apa? Pasalnya adalah walau BBM harganya turun pada hari pertama dan kekdua diturunkan sulit membelinya. Lantaran harus antri panjang di SPBU- SPBU. Bahkan ada beberapa SPBU sampai kehabisian stok. Wahh.. terpaksa kalau ingin tangki kendaraan terisi cepat harus mencari ditempat lain. Spekulasi ke kios-kios kecil. Tapi ya begitu, harganya jadi tidak murah lagi, bahkan bisa mencapai Rp.9000,- sampai dengan Rp.10.000,- per botol/liter. Hahaha.. dinaikkan dan diturunkan harga BBM tetap membelinya dengan harga tidak sewajarnya. Apa hendak dikata, yah dilakonin aja!

Nah.., sekarang yang akan saya omongkan disini adalah kabar tentang wafatnya Raja Kerajaan Arab Saudi, Abdullah Bin Abdulazis kemarin tanggal 23 Januari 2015. Berkaitan dengan kabar duka ini, diisukan kabar bahwa minyak dunia naik lagi. Wah masalahnya untuk didalam negeri ini, apakah nanti akan secepat dinaikkan atau diturunkan lagi harga BBM-nya ya. Mengingat keterangan dari pemerintah bahwa harga BBM akan mengikuti tren pasar.

Demikianlah catatan kecil ini saya buat di Blog sederhana ini. Semoga bisa membantu mengingat cerita tentang isu BBM di negeri ini. Catatan ini sewaktu-waktu saya edit untuk menyesuaikan detail yang mungkin belum sempat saya tulis.



Selasa, 06 Januari 2015

Awal Tahun 2015 yang Rada Kelam

Senyampang masih dalam nuansa tahun baru, ada baiknya kalau kita masing-masing meluangkan waktu untuk mencatat apa saja yang bisa dirasakan, dilihat, dan didengar. Kemudian menuangkan apa yang sedang terpikirkan kedalam suatu tulisan. Tujuannya untuk menyimpan kesan pertama yang kita rasakan dalam menyambut tahun 2015 ini.

Bagi saya pergantian tahunnya 2014 ke 2015, terasa biasa dan datar-datar saja. Tidak terlalu semarak. Tetapi yang tidak biasa dan mengejutkan adalah terjadinya tragedi jatuhnya pesawat terbang komersial AirAsia QZ 8501 pada 27 Desember 2014 di Selat Karimata, Laut Jawa yang pada awal bulan Januari ini masih berlangsung dilakukannya pencarian dan evakuasi korban meninggal. Dari sejumlah yang diperkirakan 160 orang korban meninggal sampai dengan hari ini, yang sudah ditemukan dan di evakuasi oleh Tim Cabungan Basarnas masih sejumlah 37 orang. Kelambatan atau kesulitan operasi tim gabungan ini dikarenakan kondisi medan dan cuaca yang tidak bersahabat.

Kejutan lain diawal tahun ini antaranya, tentang gaduh naik dan turunnya harga BBM dalam negeri. Yang dipersoalkan kalayak ramai adalah kenapa saat harga minyak dunia turun tapi harga minyak dalam negeri malah naik. Kalaupun dengan alasan untuk menyelamatkan APBN 2015 dari ancaman defisit anggaran, kebijakan ini dinilai kurang tepat. Sepertinya ada 'some things wrong,'terbukti oleh adanya kebijakan penurunan kembali harga BBM dalam negeri. Sementara itu harga minyak dunia dikabarkan turun terus. Dan.. oh, nilai tukar rupiah terus melemah terhadap Dolar Amerika sampai sekira Rp. 12.700,-

Inilah kesan yang bisa saya catat sementara ini. Jadi mengawali tahun ini tersendat oleh adanya sisa masalah ditahun kemarin (2014) yang cukup menguras energi.