Tampilkan postingan dengan label Leadership. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Leadership. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Februari 2024

Tahun Politik dan Pemilu Serentak 2024

Catatan sebelum Coblosan Suara 

Bangsa Indonesia tengah memasuki era tahun politik dan riuh menyambut suksesi kepemimpinannya melalui mekanisme Pemilu Serentak 2024 secara demokratis. 

Pemilu Serentak dimaksudkan adalah menyelenggarakan Pilpres sekaligus Pileg secara bersamaan. Pemilu mana telah menjadi tradisi lima tahunan. Pemilu merupakan acara puncak demokrasi. Pemilu adalah pesta demokrasi Bangsa Indonesia. 

Bicara mengenai Pilpres kali ini yang akan diselenggaraannya nanti pada hari Rabu 14 Februari 2024, Paslon Capres-Cawapres yang maju mengikuti kontestasi pemilihan, sebagaimana diketahui bersama ada tiga paslon, yakni: Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar dengan nomor urut 01, Prabowo dan Gibran Rakabuming Raka dengan nomor urut 02, serta Ganjar Pranowo dan Mahfud MD dengan nomor utut 03. 

Sampai dengan hari ini, tahapan acara pemilu sudah pada tahap kampanye hari terakhir (28 November 2023 -- 10 Februari 2024) dan mulai besok selama tiga hari (11s/d13 Februari 2024 hari- hari tenang. 

Hal- hal yang perlu digaris bawahi untuk acara pemilu 2024 kali ini antara lain: Adanya beberapa kejadian peristiwa seperti Putusan Sidang Pengadilan Mahkamah Konstitusi yang mengatur syarat umur pencalonan Capres- Cawapres, bahwa meskipun belum berusia 40 tahun, asalkan sudah pernah menjabat sebagai Kepala Daerah boleh mengikuti kontestasi pemilihan Capres- Cawapres. 

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah, bahwa sekarang Medsos di dunia maya Netizen sudah sangat banyak dan luas warga- masyarakatnya. Sehingga bila terjadi peristiwa sedikit saja akan menjadi ramai diperbincangkan. Apalagi jikalau menyangkut hal- hal yang peka. 

Namun, peristiwa apapun yang telah terjadi.. itu adalah juga akan jadi pengalaman dan pelajaran bagi warga- masyarakat luas dalam berdemokrasi. Perbedaan sudut pandang merupakan hak berpendapat politik dalam demokrasi. 

Yang terpenting dan utama, kita semua hendaknya tetap fokus mensukseskan Pemilu 2024. Tiap individu andil dan turut mendukung terlaksananya pemilu yang luber dan jurdil. Merdeka! 

Catatan sesudah Coblosan Suara 

    Tulisan ini ditambahkan pada hari ini Minggu, 17/Maret 2024 

Pada hari Rabu 14 Februari 2024 yang baru berlalu seluruh warga yang memiliki Hak Pilih, berbondong- bondong menuju Tempat Pemilihan Suara (TPS) ditempat tinggalnya masing- masing. Guna mencoblos atau memberikan hak suaranya sesuai hati nurani. Dan yang saya soroti pada tulisan catatan ini adalah Pilpres-nya.  

Pada sore harinya, mulai dilakukan penghitungan cepat. Saya mengikuti melalui Tayangan Televisi. Diawal penghitungan cepat diketahui bersama bahwa perolehan suara daripada Paslon Nomor Urut 02 Prabowo dan Gibran (PraGib) terlihat jauh mengungguli perolehan suara daripada kedua Paslon lainnya, yakni: Paslon Nomor Urut 01 Anies dan Muhaimin (Amin) serta Paslon Nomor Urut 03 Ganjar dan Mahfud (GaMah) 

Kemudian hitungan manual KPU juga mulai ditayangkan di Televisi. Selama beberapa hari dimana- mana orang pada memantau hasil coblosan suara Pemilu Serentak 2024. Banyak muncul komentar dan tanggapan yang beredar. 

Diujung penghitungan suara Paslon Nomor Urut 02 (PraGib) tetap memimpin perolehan suara terbanyak. Baik melalui penghitungan cepat oleh beberapa Lembaga Survey ternama maupun penghitungan manual oleh KPU, nominasinya tidak jauh berbeda. Kisaran perolehan suara Paslon 02: 58% - 59%, Paslon 01: 25% - 26%, dan Paslon 03: 16% - 17%. 

Disebutkan bahwa pemenang Pilpres pada Pemilu Serentak 2024 ini adalah berdasarkan hasil penghitungan manual oleh KPU yang akan diumumkan pada tanggal 20 Maret 2024 yang akan datang. Mari kita tunggu bersama.            
  

Sabtu, 20 Januari 2024

Selamat Tahun Baru 2024 Semoga Semua Urusan Lancar

Memasuki bulan pertama tahun 2024, Ya si bulan Januari. Kuucapkan Selamat Tahun Baru! Semoga ditahun ini keadaan tetap baik- baik saja. Kenapa? Sebab ditahun kemarin, 2023 banyak peristiwa yang terjadi begitu saja baik diluar negeri maupun didalam negeri terjadi begitu saja hal- hal kecil dan ataupun yang besar yang sifatnya tragis. 

Mulai dari kisah- kisah yang terjadi dalam rumah tangga seperti KDRT, pelecehan seksual, tawuran antar kelompok dijalan, kasus- kasus penipuan dan pembunuhan, merebaknya pejabat korupsi sampai dengan gaduhnya dunia politik dan kisah- kisah dalam peristiwa perang kesemuanya pepak terjadi ditahun 2023.  

Maka oleh karena itulah diharapkan di 2024 ini semua urusan sisa kemarin akan rontok satu persatu selesai dengan sendirinya bak daun yang menua, layu dan berguguran. kering dan sirna tertiup angin. Tinggal pohon yang meranggas. Kemudian tunas daun muda bersemi kembali menggantikan masa tua menjadi masa muda yang ceria. 

Harapan dan target ditata kembali. Merencanakan dan mewujudkan keadaan yang lebih baik dan rasional. Melangkah dan bertindak dengan penuh sigap dan kemantapan sehingga cita yang diharapkan dapat tercapai dengan gemilang. Selamat berjuang menempuh hidup di 2024.  

Kamis, 24 Juni 2021

Hidup dan Berupaya Tetap Sehat Ditengah Gelombang Amukan Covid-19

Kalau dihitung- hitung kurun waktunya sudah berjalan sekira satu tahun tiga bulanan, semenjak awal bulan Maret tahun 2020 lalu, wabah ---pandemi--- Covid-19 melanda negeri tercinta, Indonesia ini. Kasusnya tidak segera mereda, malah makin membludak mulai bulan Juni 2021 sekarang.

Taruh kata, pada hari Kamis kemarin saja (24/06) kasus harian Covid-19 yang ditemukan positif meningkat tajam. Dari hari- hari sebelumnya sekitar 5000 s/d 6000 an kasus positif harian menjadi 15.500 an lebih orang yang terpapar positif Corona Baru atau Covid-19. Termasuk yang terkena varian baru-nya Covid-19 yang dikabarkan sangat mudah menular. 

Akibatnya, saking membludaknya kasus baru terserang virus corona ini, maka tak pelak lagi; tempat- tempat penampungan dan perawatan pasien corona ini menjadi penuh hampir tidak muat. Instansi pelayanan kesehatan diambang kolap. Petugas- petugasnya (Nakes) bertumbangan satu persatu karena kuwalahan dan kelelahan. 

Pemerintah dan Satgas Covid-19 telah bekerja sangat ekstra keras dalam upaya penanggulangan penyakit wabah-ganas ini. Sudah banyak sekali dana-anggaran negara yang telah dikeluarkan untuk upaya meredam penyebaran penyakit menular berbahaya. Namun apa hendak dikata, ternyata hasilnya seakan kurang maksimal. 

Sementara itu, warga- masyarakatnya, dengan adanya wabah penyakit menular yang tidak kunjung mereda terbilang kalang kabut juga karena merasakan dan menderita sakit yang sebagiannya tidak tertolong, kemudian mati. Yang tertolong dan selamat masih harus kontrol dan check kesehatan terus secara berkala. 

Wabah ini harusnya menjadi tanggungjawab bersama. Tidak bisa 'menjagakkan' pemerintah dan Satgas Covid-19 saja. Semua berpartisipasi aktif turut mendukung dan ikut menanggulangi bencana kesehatan ini. Minimal berdisiplin dalam melaksanakan Protokol Kesehatan (Prokes) sesuai anjuran, dimulai dari diri sendiri dan keluarganya masing- masing. Taat dan disiplin Prokes!

Demikian, wasalam dari saya Antonio Ardoko. Selamat Berjuang!!              

Minggu, 16 Desember 2018

Tahun 2018 Segera Berlalu

Berlalunya hari atau minggu dan bulan seperti lari saja rasanya. Kalau sudah begitu tidak bisa tidak, tahun pun pasti kan segera berganti pula. Tahun 2018 rasanya masih baru saja datang, tapi nyatanya sudah mau pergi.

Apa boleh buat, karena sang waktu sudah berputar pepak rentangan jangka waktunya. Bulan Desember merupakan bulan akhir tahun, bulan kedua belas (12). Selamat tinggal tahun 2018! Kau telah banyak mengejawantah peri kehidupan ini. Semoga semuanya kian bertambah wawasan dan kedewasaan.

Selasa, 04 Agustus 2015

Ejekan dan Cemo'ohan Terhadap Presiden

Orang hidup dalam perjalanannya mengalami beragam godaan dan cobaan. Dimulai dari orang biasa sampai ke-orang yang disebut orang penting seperti Mentri atau bahkan presiden sekalipun. Belakangan ini mencuat pernyataan dari Wapres Jusuf Kalla (JK), yang banyak menyedot perhatian masyarakat.

Pasalnya, JK melalui mass media mengatakan bahwa masyarakat diharap berhati-hati dalam berkata-kata tentang diri sang presiden, utamanya tulisan di media sosial. Dimaksudkan agar warga tidak melakukan ejekan, cemo'ohan, ataupun penghinaan terhadap diri presiden Jokowi. Karena menurutnya bisa berujung masuk bui.

Kemudian pemerintah mengajukan usulan Revisi UU KUHP, khususnya untuk menghidupkan kembali pasal-pasal yang berkaitan dengan penghinaan kepada presiden. Diwaktu yang lalu --saat Ketua Mahkamah Konstitusi di jabat oleh pak Jimly-- telah dicabut dengan alasan bahwa pasal tersebut sudah tidak sesuai, karena membatasi kebebasan berpendapat.

Dikabarkan juga hari ini DPR menolak usulan revisi tersebut. Maka makin ramailah orang yang berpolemik tentang masalah pasal penghinaan ini.

Sementara itu Mentri Dalam Negeri, Cahyo Kumolo menegaskan niatnya untuk tetap mengajukan Revisi UU KUHP. Sebab menurutnya presiden adalah pemimpin kita. Kepala Negara yang harus di hormati. Bukan dengan seenaknya bisa diejek atau dihina oleh sembarang orang tanpa kendali. Bahkan disebutkan olehnya bahwa presiden itu lambang negara.

Hmm.. atas adanya pernyataan-pernyataan pak Cahyo Kumolo itu, muncul reaksi-reaksi beragam di kalayak ramai khususnya di sosial media. Disebutkan antara lain jika tidak mau di kritik janganlah jadi pemimpin. Lalu di sanggah dengan pernyataan mengkritik dan menghina itu ada bedanya. Sehingga akibatnya seakan antara kata meng-kritik dan meng-hina menjadi rancu pengertiannya. Batasan dari nuansa mengkritik atau menghina menjadi kabur.

Dilain fihak bagi presiden sendiri menyatakan bahwa ejekan, cemo'ohan ataupun penghinaan sudah merupakan makanan sehari-hari. Keadaan ini dialami sejak masih menjadi Wali Kota Solo sampai dengan hari ini saat menjabat menjadi Presiden Republik Indonesia. "Kalau saya bisa saja menuntut, tapi nanti yang kena bisa ribuan, maka hal itu tidak saya lakukan," demikian kata pak Jokowi dalam suatu kesempatan jumpa pers.

Terlepas dari semua pembicaraan diatas, maka bagi kita yang mungkin masih memiliki rasa-roso yang utuh dan netral, kiranya hal-hal demikian ini tidak usahlah dipertajam menjadi sesuatu yang terasa menghebohkan. Yang penting semua fihak harusnya tetap memiliki rasa "tepo seliro." Jika tidak mau disakiti maka janganlah menyakiti orang lain.

Jati diri dan kepribadian bangsa yang luhur mari dipertahankan. Kita adalah bangsa yang santun. Penuh hormat terhadap sesama. Apalagi kita dikenal sebagai bangsa yang religius. Jadi semua fihak harus tetap pada kontrolnya masing-masing. Hidup berdampingan secara rukun dan damai.




Jumat, 29 Mei 2015

Biasakan Beli BBM Mahal

Baru-baru ini ada pejabat yang memberi nasehat seperti kata-kata yang tertera di judul tulisan ini. Hehe.., mau tidak mau harus mau beli BBM mahal. Kalau tidak motor atau mobil kan tidak bisa jalan. Tapi masalahnya bukan pada dibeli atau tidak, melainkan tentang maksud dibalik nasehat tersebut. Apa kira-kira ya makna yang terkandung dibalik nasehat itu?

Mungkin untuk menyiapkan mental warga agar terbiasa dengan gejolak turun-naiknya harga BBM dipasaran. Sebab harga BBM di Indonesia sudah tidak stabil lagi seperti dulu ketika Subsidinya belum dicabut oleh pemerintah Jokowi JK. Dulu kan ada penahannya, walau harga minyak dunia naik, tetap saja murah didalam negeri. Tak lain berkat Subsidi BBM oleh pemerintah yang tetap bersikukuh tidak mengubah harga demi kepentingan warga masyarakatnya.

Dengan membiasakan mau membeli BBM mahal --BBM tanpa Subsidi-- maka secara langsung atau tidak langsung, masyarakat telah membantu pemerintah menghemat APBN yang ada, yang katanya defisit itu. Agar dengan begitu pemerintah bisa mempunyai kemampuan untuk melaksanakan rencana pembangunan di bidang lain-lainnya yang juga dianggap penting. Misalnya pembangunan infrastruktur, pembangunan dibidang pendidikan, juga pembangunan dibidang kesehatan. Dan pula tidak kalah pentingnya adalah untuk memberikan bantuan langsung tunai kepada warga pra sejahtera, warga miskin. Bagus sekali konsep ini memang.

Pada kenyataan berjalan apa yang terjadi? Banyak dampak masalah yang timbul akibat dari kebijakan tersebut. Terutama terhadap melonjaknya ongkos-ongkos transportasi dan harga-harga bahan sembako. Jadi sebenarnya warga tidak hanya dibiasakan untuk membeli BBM dengan harga mahal, namun juga dibiasakan untuk membeli jasa transportasi dan bahan sembako dengan harga tinggi pula.

Sementara itu, berita tentang pencurian minyak mentah tersiar kemana-mana jadi topik hingar bingar sampai sekarang. Katanya ada Mafia Migas. Pemerintah rupanya berniat memberantas kejahatan ini dengan tidak pandang bulu. Tetapi sejauh ini masih belum ada kabar yang jelas tentang seberapa jumlah besaran dana milik negara yang bisa diselamatkan.

Waktu terus berputar dan keadaan terus berjalan dengan segala perubahan dan suka dukanya. Warga masyarakat nurut dan berdiam diri. Apa yang telah menjadi ketentuan pemerintah dijalanai. Meskipun terasa pahit dan getir. Meskipun beban kebutuhan hidup terasa lebih berat. Rata- rata semua diam. Hanya bisa menghela nafas panjang berkali-kali.

Ketika bulan Mei 2015 tiba, tidak dinyana kemudian ada demonstrasi atau unjukrasa damai dari seluruh elemen Mahasiswa seluruh Indonesia. Menyuarakan aspirasinya mewakili warga yang notabene dalam hal ini adalah keluarganya, para orang tuannya yang membiayai sekolahnya. Para orang tua atau warga masyarakat yang menjadi Kepala Keluarga merasa tertekan dengan adanya saran untuk membiasakan diri membeli barang-barang kebutuhan dan ongkos-ongkos yang mahal.

Nah, sekarang bisa dirasakan bahwa apakah kebijakan agar masyarakat mau mengerti dan bersedia menderita dengan harga-harga yang terus membubung tinggi adalah kebijakan yang tepat dan efektif? Sementara itu kegiatan ekonomi makro dilaporkan BPS keadaan laju ekonomi Indonesia, mengalami pelambatan, target masih berada dikisaran 4,7% (Bloomberg Tv) mari kita simak bersama-sama.

Sabtu, 27 Agustus 2011

Keberingasan Terhenti Sejenak di Bulan Suci

Secara keseluruhan keberingasan masyarakat dalam mengkritisi keadaan seakan terhenti dibulan ini. Hal ini dapat dimaklumi karena sebagian besar masyarakat kita sangat- sangat menghormati bulan Ramadan dan Syawal. Dua bulan ini dikhususkan untuk bersilaturahmi dan bercengkerama dengan keluarga dan sanak famili serta handai taulan masing- masing.

Padahal sebelumnya, tiap hari hampir terjadi demo silih berganti, diwilayah negeri subur dan kaya seperti, Indonesia tercinta ini. Ironisnya hampir disetiap penghujung demo diakhiri oleh terjadinya peristiwa anarkis. Terlepas pemicunya, berawal dari pendemo, provokator dan atau berawal dari petugas yang suka main kasar.

Aksi turun jalan dengan memobilisir massa, yang dikenal dengan 'Demonstrasi', dikatakan adalah sudah menjadi pemandangan yang biasa terjadi dinegara yang menganut sistem demokrasi. Demonstrasi yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem demokrasi. Biasanya fenomena terjadinya demonstrasi diakibatkan oleh adanya kebuntuan saluran aspirasi yang ada, antara rakyat dengan para wakilnya, antara warga dengan pamong atau pemerintahnya. Kebuntuan Birokrasi (Birokratisme) - pun, akan memicu terjadinya aksi turun jalan.

Melalui tulisan ini, diharapkan bahwa suasana damai dan tenteram dibulan suci ini terbawa terus kebulan- bulan berikutnya. Dalam artian kalaupun akan terjadi aksi turun jalan, hal tersebut dilakukan dengan aksi damai. Semua dilakukan dengan mekanisme yang damai dan tak ada aksi kekerasan dari fihak manapun juga. Semua fihak diharapkan menyadari kelemahannya masing- masing dan saling melebur untuk membuat kesepakaan baru yang lebih bisa diterima seluruh komponen dan lapisan masyarakat dan rakyat Indonesia. Karena harus selalu diingat bahwa Demokrasi Indonesia adalah Demokrasi Pancasila. Bukan Demokrasi Liberal. Sehingga setiap masalah seharusnya dapat diselesaikan secara damai. Pancasila adalah alat pemersatu, bukan pemecah belah persatuan dan kesatuan.

Kiranya janganlah ada orang/ kelompok atau masyarakat dari golongan tertentu manapun juga yang berteriak dirinya Pancasilais, tetapi sesungguhya dalam hatinya haus akan kekuasaan, yang justru sikap dan perbuatannya tidak mencerminkan jiwa yang Pancasilais. Bahkan selalu memaksakan kehendak dan menampilkan kebrutalan dengan dalih menyelamatkan Pancasila.

Apabila pada akhirnya akan terjadi revolusi sosial dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, biarlah semua itu terjadi secara alamiah. Hal itu terjadi semata- mata hanya untuk terciptanya kualitas hidup bersama. Untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa dari keterpurukan- keterpurukan yang tidak perlu.

Namun sebisa mungkin kiranya tidaklah sampai kemekanisme revolusi sosial, karena efek sampingannya luar biasa jahatnya. Sebaliknya agar para pemegang otoritas di pemerintahan berbenah diri secara cepat mulai dari sekarang, karena tidak ada istilah terlambat untuk berbenah. Mendengarkan suara atau aspirasi rakyat secara keseluruhan dan mengambil kebijakan yang populer, yang produktif dan yang pro rakyat kebanyakan. Ingat kekayaan bumi, langit dan air di Indonesia, semata- mata dan sepenuh- penuhnya diperuntukkan demi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia. Bravo!.. Merdeka!.






Rabu, 10 Agustus 2011

Bangsa Indonesia Bangsa Tahu Tempe Dikata Bodoh Tapi Cerdas

Stigma lama menyebutkan bahwa kita ini adalah bangsa yag berotak tahu dan berperilaku tempe. Dimaksudkan untuk menggambarkan kondisi kecerdasan bangsa Indonesia yang masih primitif cara berpikirnya. Masih terbelakang budayanya. Paling tidak ini menurut pandangan kacamata bangsa barat. 

Namun kini lain keadaannya. Cari kutu diatas karang, dulu lain sekarang, peribahasanya begitu. Kita memang awalnya terpukul dengan anggapan tersebut. Kemudian yang lemah mentalnya menjadi tersinggung dan marah- marah dengan tak ada juntrungannya. Sementara yang tahan bantingan menganggap cemo'ohan itu sebagai cambuk, maka sejak 1908 dengan tekad bulat seperti bulatnya bola sepak PSSI. Bangsa Indonesia tekun belajar untuk mengejar ketertinggalannya. Sampai dengan sekarang, dijaman modern ini, hasil jerih payah itu sudah membuahkan hasil yang gemilang.

Keadaan kecerdasan bangsa kita sekarang sudah tidak bisa dipandang remeh oleh bangsa lain yang lebih dahulu mengalami kemajuannya. Kemajuan pesat cara berpikir dan bertindak bangsa kita lebih unggul dari bangsa lain didunia ini. Hali ini bisa dibuktikan dari hasil karyanya. Semisal dibidang seni melukis, ada Basuki Abdulah, Affandi dan banyak lainnya yang sulit disebutkan satu persatu. Senitari, keberhasilan mengadopsi kisah Ramayana dan Mahabharata. Serta Tari Bali dan seadabreg tari- tarian seni tradisional didaerah lainnya. Seni pidato, kita punya mendiang Bung Karno, Zainuddin MZ, Soeharto, dan yang lain seperti Megawati Soekarno Putri, Susilo Bambang Yudoyono (SBY), dan seterusnya. Dibidang pengetahuan dan teknologi, kita punya BJ Habibi dan ratusan murid- muridnya. Dibidang sastra, kita punya WS Rendra dan yang lainnya. Dibidang hukum dan HAM kita punya Prof. Sahetapi, Mahfud MD, dkk. Dibidang keagamaan, kita memiliki banyak tokoh, seperti Wali Songo pada jamannya, dan tokoh- tokoh agama lain yang banyak dan sulit disebutkan satu persatu.  Pokoknya hampir disemua bidang kehidupan dan kebudayaan kita memiliki figurnya yang berkualitas internasional.

Setelah keadaan semakin maju, produk Tahu dan Tempe diselidiki kandungan gizinya, penelitian mana dipelopori oleh Prof. Sihombing dan yang lainnya, diketahui ternyata bangsa kita itu bisa sangat cerdas justru karena kebanyakan atau memiliki kebiasaan memakan produk protein nabati setiap hari dengan rutin, yaitu memakan Tahu dan Tempe. Berkat makanan tahu dan tempe yang kandungannya kaya akan zat protein, vitamin dan mineral itu. Bangsa yang dulunya meremehkan bangsa kita, yang melihat dengan kacamata minusnya, pada saat kacamata tersebut dilepaskannya, karena merasa tidak percaya kalau kita ini bisa cerdas melebihinya, mereka terbelalak matanya. Baru tau dia! Makanye jangan melihat orang hanya dari balik kaca mata doang.

Karena hebatnya kecerdasan bangsa Indonesia, maka pada suatu hari orang- orang bangsa yang telah berhasil menciptakan mesin otomotif dan Kereta Api, datang ke Indonesia hanya untuk menyaksikan betapa yang namanya Kereta Api yang dibuat pada tahun 20- 30' an itu masih bisa lari kencang dengan enaknya. Padahal dinegaranya sudah jadi barang yang membatu dan sebagian dimuseumkan. Mereka plonga plongo karena terheran- heran, persis kayak Tarzan masuk kota. Tidak habis pikir, mengapa Kereta Api setua itu masih bisa eksis! 

Belum lagi kalau seandainya diperlihatkan tentang hasil karya modifikasi motor. Merk dan tahun baheula masih jreng dan seger meger, tidak kalah dengan buatan Merk dan tahun yang baru. Ini karena pandainya bangsa kita, ngoboh motor. Ya mengoboh atau mempreteli sekalipun, kalau disentuh oleh tangan- tangan terampil sodara- sodara kita yang jenius, Motor bisa disulap menjadi barang yang menarik. Artistik, nyentrik, nyeleneh dan gendeng, ada semua modelnya. Huiii!

Pendek kata, bangsa kita ini disuruh bikin apa saja serba bisa, seperti kerajinan anyam- anyaman, kayu, apalagi.. pokoknya semuanya menjadi beres dan ok sekali. Apa kira- kira yang kurang dari penampilannya ini, kira- kira ? Heh.. cari sendiri saja yah! He he he .....

Akan tetapi, semua hal itu ternyata ada 'some things wrong' nya. Apa itu? Ini ada beberapa contoh menarik. Tentang produk Tempe itu sendiri. Ternyata Hak Patennya dimiliki oleh bangsa Jepang. Jadi kalau kita mau menjual produk Tempe keluar negeri harus ijin dulu ke orang Jepang. Ha ha ha... keadaan yang lucu tapi jadi tidak lucu. Dan sebenarnya banyak contoh lain yang serupa tapi tak sama.

Mengapa bisa demikian ya? Ini yang perlu sedikit dicermati. Dari hasil pengamatan saya secara sporadis, ternyata bangsa kita itu kelemahannya adalah antara lain, sangat egois. Individual sifatnya. Tidak senang kalau temannya lebih unggul darinya, lalu dijegal dengan segala cara. Padahal rahasia sukses itu, menurut orang Jepang terletak pada sejauh mana kerjasama bisa dilakukan dalam berkarya. Resef kerjasama yang baik dan sangat solid inilah yang membuat bangsa Jepang menguasai dunia industri, menjadi Negeri Raksasa Industri. Mengalahkan bangsa Amerika yang cerdik tapi individual hampir sama kayak orang Indonesia. Beda sedikit, kalau orang Amerika menemukan dan membuat sesuatu yang baru. Orang Indonesia mengobohnya (mengubah) barang baru atau lama menjadi desain yang lebih menarik. Bondo cupet jadi nekad (bonek) kale.....

Sifat individualis ini dibawa- bawa sampai kemana- mana oleh orang- orang kita. Semisal ketika sodara kita berhasil dibidang pengobohan motor, lalu jadi kaya dan sukses. Ia mencoba nyaleg dan berhasil. Maka kini ia duduk sebagai anggota atau ketua suatu departemen di DPR. Ketika ada forum rapat biasa atau paripurna, jadinya ruang sidang ramai kayak suara motor- motor yang meraung- raung. Mereka saling tuding dan mempertahankan pendapatnya sendiri- sendiri. Arus pembicaraan menjadi simpang siur, kata orang jawa, rapatnya jadi saur manuk ( kayak suara burung berkicau-- yang penting kicauannya sendiri yang terdengar) 

Kesimpulannya adalah bahwa, bangsa kita ini sesungguhnya adalah bangsa yang cerdas, entahlah mungkin karena banyak mengkonsumsi produk Tahu dan Tempe itu mungkin, bisa saja kejadian. Andaikata saja, kita itu bisa berkoordinasi atau bekerjasama lebih baik sedikit saja, maka mungkin kita akan menjadi bangsa yang sudah lama maju lebih dahulu. 
   

Rabu, 29 Juni 2011

Relevansi Politik Pencitraan

Panggung Politik dinegeri ini seakan sedang berlomba untuk berebut posisi yang baik dimata rakyat yang makin melek politik. Tentu saja yang dimaksud pada tulisan ini adalah yang dilakukan oleh orang- orang yang berkecimpung didunia politik. Kalau pada beberapa tahun lalu dimana rakyat belum begitu tahu dan atau memang tak mau tahu tentang politik, mungkin bisa saja mengelabuhi mata dan hati rakyat dengan gaya pencitraan diri ketokohan dalam kontes kepemimpinan.

Tapi sekarang rakyat tidak butuh samasekali dengan politik pencitraan yang ditonjol- tonjolkan. Perkara citra itu sendiri, akan muncul dengan sendirinya, bergantung dari sepak terjang yang dilakukan. Apabila bagus perjuangannya maka secara paralel citra itu akan ikut dan melekat pada diri tokoh tersebut. Sebaliknya apabila perjuangannya hanya retorika yang sulit sekali dilihat hasilnya pada tataran operasional maka walaupun seribu kali upaya pencitraan dilakukan, ya tetap saja citra diri tidak akan baik, malahan merosot tajam menjadi citra buruk yang diperoleh.

Rakyat sekarang butuh kepemimpinan operasional, butuh pemimpin situasional yang memiliki rencana strategis fleksibel dan benar- benar sesuai dengan realita kenyataannya dilapangan. Memang perencanaan musti dibuat dibelakang meja, ketika hasil survey usai dilakukan. Namun untuk dapat menggerakkan apa yang direncanakan tentu harus memiliki perencanaan strategis yang bernapaskan realita, sehingga dapat menerobos keadaan dengan implementasi perencanaan yang telah dibuat secara tepat dan cepat, bak Jarum Kompas yang selalu peka terhadap situasi yang terjadi. Tindakan segera dilakukan sesuai kebutuhan untuk mengatasi permasalahan dengan tahapan yang tuntas.

Jikalau jarum kompas yang dijadikan alat kontrol hanya berputar- putar terus tanpa bisa menunjukkan situasi yang terjadi, maka boleh dikatakan jarum kontrol tersebut sudah rusak dan perlu diganti dengan yang baru. Bagaimana bisa bekerja kalau tidak paham terhadap situasi yang berkembang dan terus bergerak. Hal ini bisa terjadi karena pemimpin hanya duduk dibelakang meja, tak pernah turun lapangan. Hanya pasif terima laporan yang dibisikkan dengan cara klasik, asal bapak suka. Pembisik- pembisik yang hanya carmuk (cari muka) justru akan merusak apa yang dinamakan 'citra' tadi.

Sekarang, apabila kita menganut cara pikir bahwa tidak ada istilah terlambat, maka cepatlah berubah. Segeralah mengubah mindset menjadi figur pemimpin yang melayani. Bukankah apa yang disebut kepala harus melayani anggota tubuh? Jadi barang siapa yang ingin menjadi pemimpin harus bersedia dengan sungguh- sungguh mau melayani kepentingan yang dipimpin, yakni para anggota, ya publik- rakyat ini, semuanya.

Minggu, 15 Mei 2011

Dari Bola Sepak menjadi Bola Api

Perjalanan alot permasalahan pemilihan ketua umum ditubuh PSSI berlanjut terus sampai dengan hari ini. Masyarakat luas makin sebal melihat perkembangan penyelesaian kemelut diintern organisasi PSSI yang merupakan organisasi olah raga milik seluruh rakyat Indonesia ini. Bahkan sampai ada yang gusar setelah mendengar dan melihat berita dari beberapa media massa dan akhirnya turun jalan dan turun jalan lagi, memprotes agar mencari solusi terbaik dengan membersihkan pengurus PSSI yang bermasalah tetapi masih bertahan. Masalahnya kini apakah harapan masyarakat luas tersebut bisa terpenuhi?

Kalau dicermati sungguh- sungguh ternyata tidak seperti tampak sekedar mengurusi bola sepak saja namun persoalan lebih kepada memperebutkan posisi- posisi non teknis yang strategis. Karena masalah supremasi olah raga sepak bola yang dalam permainannya bola disepak ini sudah hampir mengungguli simbul- simbul suatu negara. Artinya kegiatan sepakbola-nya yang lebih dikenal masyarakat dunia daripada nama negaranya sendiri. Semisal Juventus, Barcelona, Ac Milan, dan lain- lain. Bukankah hal ini merupakan contoh yang jelas bahwa pada dasarnya mengurusi bola sepak tak ubahnya seperti mengurusi kemelut negara. Tak menutup kemungkinan dan tak dapat disalahkan kalau akhirnya awam mengatakan bahwa yang diurusi bukan sekedar mengurusi bola sepak namun juga akhirnya menjadi bermain bola api.

Konflik kepentingan dalam mengurus bola api akan merambah kebidang lainnya, seperti politik, ekonomi dan sosial. Maka itulah sering mencuat statement oleh pengamat bola bahwa janganlah mencampur adukkan penyelesaikan masalah sepakbola dengan kekepentingan politik tertentu. Karena apabila mengurusi bola sepak berubah menjadi bola api tidak akan pernah segera selesai.

Kita harus segera tersadar dan menahan diri karena masalah bangsa ini bukan sekedar mengurusi sepakbola saja, tetapi banyak masalah lain yang juga meminta perhatian serius. Masalah kemiskinan, masalah kesehatan, masalah pendidikan dan lain- lain bidang yang sesungguhnya hampir semua bidang sekarang sedang punya masalah dinegeri ini. Peran pemegang otoritas negeri ini pada awalnya memang bisa dimaklumi jikalau berposisi pada sikap wait and see. Namun pada situasi dan kondisi seperti sekarang dimana bola sepak bak telah menjadi bola api, hendaknya janganlah dibiarkan. Ambilah sikap tegas yang bisa diacu, syukur- syukur bila bisa ditemukan penyelesaian masalah dengan win- win solution.        

   

Rabu, 09 Maret 2011

Khadafi Ingin Menyerah


Pada awalnya melihat M. Khadafi yang ngotot mempertahakan tahtanya, agak ngeri membayangkan jika benar- benar pecah perang saudara dinegeri Arab itu. Tiba- tiba M. Khadafi berbalik arah. Bukannya tetap pada semboyan bertahan sampai titik darah penghabisan melainkan rela menyerah dengan mengajukan beberapa syarat darinya.

Mungkin kita semua turut lega saat mendengar bahwa M. Khadafi menyatakan ingin menyerah. Dengan demikian pertumpahan darah yang lebih parah dapat terhindarkan atau dapat dicegah. Dan kita perlu angkat topi kepadanya karena memang kini ia harus lengser- keprabon. Sudah cukup lama ia memegang tampuk pemerintahan, hampir 40 tahun.

Beri kesempatan bagi generasi penggantinya untuk mengadakan perubahan yang lebih cerah. Karena rakyatnya sudah terlalu lama dibawah tekanannya. Ini terbukti pada salah seorang anaknya yang membelot darinya. Bergabung dengan rakyat yang anti pemerintahan M. Khadafi.

Sabtu, 25 April 2009

Pemilu 2009

Turut lega rasanya karena Bangsa Indonesia di awal pertengahan tahun 2009 ini telah dapat mengadakan pemilu- legislatif yang makin representatif dengan tertib dan lancar. Mendatang disusul kegiatan pelaksanaan pemilihan calon presiden (Pilcapres), yakni pada bulan Juli 2009 yang akan dilaksanakan dengan penuh komitment dan optimisme yang tinggi.

Tentu masalah dan kendala dalam pelaksanaan pemilu tersebut pasti ada. Hal itu merupakan sesuatu yang biasa terjadi dalam proses perubahan menuju keadaan yang lebih maju. Yang penting semua seyogyanya memiliki niat baik, berfikir positif untuk mendukung kesuksesan proses demokratisasi yang baik, jujur dan adil sehingga tercipta tatanan kehidupan sosial- politik yang lebih mantap dan dewasa.

Pada langkah selanjutnya setelah pemilu legislatif tentu semua partai dengan segeranya melakukan konsolidasi internal dan mengatur strategi untuk berpartisipasi dalam pemilu presiden. Apabila tahapan proses pemilu semua dilalui dengan baik sesuai etika- politik yang ada maka hasil pemilu dapat diprediksikan dapat berjalan dengan mantap.

Siapapun yang akan menduduki kursi legislatif dan atau kursi kepresidenan tak masalah, asal telah melalui proses yang baik dan benar sesuai UU Pemilu yang diberlakukan. Kita dukung hasil pemilu 2009 sepenuhnya. Mari bersama maju.. menyongsong Indonesia yang makin maju dan sejahtera.

Kamis, 04 Desember 2008

Musim Haji dan Masalahnya

Naik haji disamping memang sudah ketetapan agama juga merupakan kebanggaan dan kepuasan batin tersendiri dalam menjalankan ibadah agama Islam. Hanya sayangnya manajemen perusahaan transportasi banyak diberitakan kurang profesional dalam mengurus para calon jemaah haji, sehingga banyak komplain dan beragam kasus lagi.

Padahal nyari peces untuk ditabung sedikit demi sedikit susahnya setengah mati. Begitu waktunya dipergunakan, banyak penderitaan menyertai berkait dengan pelayanan petugas pelayan haji yang terkesan kurang perhatian dan tidak peka terhadap keluhan para jemaah haji. Mungkin semua itu karena kurangnya kerja HOT (Hati-Otak-Tenaga) petugas; mengakibatkan terlunta- luntanya para jemaah dalam perjalanan menuju Tanah Suci.

Selasa, 19 Agustus 2008

Figur Pemimpin Mendatang

Setiap hari nyaris kita mendengar orang- orang disekitar kita membicarakan masalah siapa dan bagaimana figur pemimpin kita mendatang. Pembicaraan tidak dimonopoli orang- orang elit tertentu saja, melainkan dihampir semua lapisan masyarakat, termasuk lapisan kelas bawah.

Ambil contoh yang nyata saja; jika kita berjalan- jalan dan mampir diwarung- warung kopi atau pojok- pojok tempat jualan lainnya, maka sering secara tidak sengaja kita akan menyaksikan dan mendengarkan orang awan disitu pada bicara soal- soal kehidupan sehari- hari, seperti keadaan sosial ekonomi yang mendera mereka yang ujung- ujungnya sampai kepada pembicaraan perihal yang berbau kebijaksanaan politik negara.

Keadaan sosial ekonomi rakyat yang sekarat mengusik kaum cilik untuk serba bisa dalam pembicaraan segala bidang. Terkadang dalam keadaan kepepet rakyat dapat menjadi cerdas dan kreatif untuk hal- hal diluar kemampuannya. Mungkin inilah yang disebutkan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan.

Bicara soal kepemimpinan mari kita simak pendapat (opini) salah seorang aktivis kalangan muda yang cukup rasional dari kota Jember. Ia mengatakan bahwa seorang pemimpin yang dibutuhkan dimasa mendatang haruslah bersifat 'transformatif' yang sedikitnya memenuhi empat syarat dasar, yaitu pertama memiliki intelektualitas yang baik, kedua memiliki change of situation, ketiga memiliki sifat futuristik atau visioner dan keempat bisa memperhatikan dan mengadaptasi aspirasi grassroot yang diwakilinya. Ditambahkannya pula bahwa pemimpin sekarang kurang memiliki hal- hal tersebut diatas. Kebanyakan gaya kepemimpinan yang dibawakannya bersifat 'transaksional.' Koncoisme dan mementingkan kepentingan golongan atau diri sendiri.

Lebih jelasnya bahwa kenyataan kepemimpinan sekarang cenderung relatif ditolak oleh generasi muda, para aktivis gerakan pemikiran untuk menuju jaman pencerahan yang lebih cerah dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara dan berbangsa. Alasannya kebijakan banyak yang kurang memihak rakyat. Menolak kepemimpinan yang status quo. Namun tidak berarti meninggalkan apa yang sudah disumbangkan oleh generasi sebelumnya, tetapi naif katanya bila hanya menelan mentah dan menganut pada satu sumber saja; semua harus terjadi dan berkembang dengan wajar semata- mata lebih disebabkan oleh kenyataan bahwa sejarah selalu progresif dan bergerak maju. Jadi sangat dinamis, selalu mengalami perubahan terus menerus.



tunggu posting lanjutan...