Tampilkan postingan dengan label Tragedi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tragedi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Desember 2024

Belum Sempat Menulis Tahun 2024 Sudah Akan Berakhir

Seakan benar, orang yang mengatakan bahwa waktu itu melesat seperti anak panah. Lhah iya, aku belum sampai buat tulisan atau catatan di tahun 2024 di situs Blog ku ini.. eee... tahu- tahu sekarang sekarang sudah berada di-penghujung tahun 2024. Sudah tanggal 21-12-2024. 

Apa yang bisa aku catat ya ditahun 2024 ini? Hmm.., padahal banyak hal telah terjadi, namun sebagai wong cilik biasa tentu cuman sedikit yang dapat ditulis. 

Oh iya, kalau peristiwa penting yang terjadi didalam negeri antara lain, Pemilu Serentak yang diselenggarakan pada bulan April. Dan untuk Pilpres-nya dimenangkan oleh Prabowo Subiyanto dan Gibran Rakabuming Raka. Pilpres kali ini begitu banyak dan ramai dinamikanya. 

Peristiwa yang terjadi diluar negeri, antara lain adalah Peperangan antara negara Israel melawan Palestina yang banyak menelan korban jiwa terutama dari fihak Palestina. Peperangan ini sangat menggemparkan masyarakat dunia. 

Hal- hal lainnya akan aku catat pada tulisan berikutnya saja.  

Sabtu, 20 Januari 2024

Selamat Tahun Baru 2024 Semoga Semua Urusan Lancar

Memasuki bulan pertama tahun 2024, Ya si bulan Januari. Kuucapkan Selamat Tahun Baru! Semoga ditahun ini keadaan tetap baik- baik saja. Kenapa? Sebab ditahun kemarin, 2023 banyak peristiwa yang terjadi begitu saja baik diluar negeri maupun didalam negeri terjadi begitu saja hal- hal kecil dan ataupun yang besar yang sifatnya tragis. 

Mulai dari kisah- kisah yang terjadi dalam rumah tangga seperti KDRT, pelecehan seksual, tawuran antar kelompok dijalan, kasus- kasus penipuan dan pembunuhan, merebaknya pejabat korupsi sampai dengan gaduhnya dunia politik dan kisah- kisah dalam peristiwa perang kesemuanya pepak terjadi ditahun 2023.  

Maka oleh karena itulah diharapkan di 2024 ini semua urusan sisa kemarin akan rontok satu persatu selesai dengan sendirinya bak daun yang menua, layu dan berguguran. kering dan sirna tertiup angin. Tinggal pohon yang meranggas. Kemudian tunas daun muda bersemi kembali menggantikan masa tua menjadi masa muda yang ceria. 

Harapan dan target ditata kembali. Merencanakan dan mewujudkan keadaan yang lebih baik dan rasional. Melangkah dan bertindak dengan penuh sigap dan kemantapan sehingga cita yang diharapkan dapat tercapai dengan gemilang. Selamat berjuang menempuh hidup di 2024.  

Minggu, 06 September 2020

Tetap Hadapi Covid-19 dengan Cerdas

Setiap hari lebih banyak tinggal dalam rumah saja, dibanding dengan ber-aktivitas diluar rumah. Ini terjadi, awalnya karena ada himbauan dari pemerintah yang saat itu memberlakukan PSBB Corona.
Sekarang sudah 6 - 7 bulanan berjalan Wabah Corona (Covid-19) belum mereda juga. Padahal pemerintah sudah berusaha keras sepenuh kemampuan dan segenap hati untuk bersungguh-sungguh membrantas- redamkan wabah virus ganas ini. Perkembangan terakhir malah angka kasus harian secara nasional meningkat terus sampai bisa dibilang kisarannya antara 2500 - 3000 orang lebih dalam sehari, terpapar Covid-19.
Setelah PSBB diberlakukan, kehidupan ekonomi warga-masyarakat kocar-kacir. Lalu ada kebijakan pemerintah untuk memberikan bantuan sosial tunai (BST) lumayan dapat longgar sedikit tekanan kebutuhan harian.
Strategi baru diterapkan oleh pemerintah. Cara hidup berdamai, berdampingan dengan Kuman Covid-19. Jalan ini ini dipilih karena disimpulkan dengan penerapan PSBB terlalu lama akan menghancurkan kehidupan ekonomi rakyat, bahkan negara juga akan defisit anggaran. Cara baru ini dikenal dengan istilah Kehidupan 'New Normal', cara hidup dengan tatanan baru. Cara hidup dengan disiplin penerapan Protokol Kesehatan, antara lain pada pokoknya adalah: 1) Memakai/ mengenakan Masker hidung dan mulut saat beraktivitas. 2) Menjaga jarak aman dengan oarang lain 1,5 - 2 meter) dan 3) Sering menncuci tangan dengan sabun diair mengalir.
Pada awal bulan September 2020 ini, hasilnya.. Sebaran Covid-19 tidak mereda, malah terasa makin luas dan masif, yang terpapar tembus 190.000 an lebih. Sampai- sampai kemarin dulu ada berita, bahwa para Epidemiolog mengusulkan agar Indonesia perlu Lock Down.
Menanggulangi wabah Covid-19 ini merupakan tanggungjawab bersama. Tanggungjawab seluruh warga-masyarakat Indonesia dan bahkan dunia. Jangan hanya menyerahkan kepada pemerintahnya saja. Disiplin penerapan Protokol Kesehatan sangat penting untuk ditingkatkan terus- menerus. Serta upaya pencarian Obat dan pembuatan Vaksinnya harus terus segera diupayakan secepatnya.

Jumat, 29 Mei 2015

Biasakan Beli BBM Mahal

Baru-baru ini ada pejabat yang memberi nasehat seperti kata-kata yang tertera di judul tulisan ini. Hehe.., mau tidak mau harus mau beli BBM mahal. Kalau tidak motor atau mobil kan tidak bisa jalan. Tapi masalahnya bukan pada dibeli atau tidak, melainkan tentang maksud dibalik nasehat tersebut. Apa kira-kira ya makna yang terkandung dibalik nasehat itu?

Mungkin untuk menyiapkan mental warga agar terbiasa dengan gejolak turun-naiknya harga BBM dipasaran. Sebab harga BBM di Indonesia sudah tidak stabil lagi seperti dulu ketika Subsidinya belum dicabut oleh pemerintah Jokowi JK. Dulu kan ada penahannya, walau harga minyak dunia naik, tetap saja murah didalam negeri. Tak lain berkat Subsidi BBM oleh pemerintah yang tetap bersikukuh tidak mengubah harga demi kepentingan warga masyarakatnya.

Dengan membiasakan mau membeli BBM mahal --BBM tanpa Subsidi-- maka secara langsung atau tidak langsung, masyarakat telah membantu pemerintah menghemat APBN yang ada, yang katanya defisit itu. Agar dengan begitu pemerintah bisa mempunyai kemampuan untuk melaksanakan rencana pembangunan di bidang lain-lainnya yang juga dianggap penting. Misalnya pembangunan infrastruktur, pembangunan dibidang pendidikan, juga pembangunan dibidang kesehatan. Dan pula tidak kalah pentingnya adalah untuk memberikan bantuan langsung tunai kepada warga pra sejahtera, warga miskin. Bagus sekali konsep ini memang.

Pada kenyataan berjalan apa yang terjadi? Banyak dampak masalah yang timbul akibat dari kebijakan tersebut. Terutama terhadap melonjaknya ongkos-ongkos transportasi dan harga-harga bahan sembako. Jadi sebenarnya warga tidak hanya dibiasakan untuk membeli BBM dengan harga mahal, namun juga dibiasakan untuk membeli jasa transportasi dan bahan sembako dengan harga tinggi pula.

Sementara itu, berita tentang pencurian minyak mentah tersiar kemana-mana jadi topik hingar bingar sampai sekarang. Katanya ada Mafia Migas. Pemerintah rupanya berniat memberantas kejahatan ini dengan tidak pandang bulu. Tetapi sejauh ini masih belum ada kabar yang jelas tentang seberapa jumlah besaran dana milik negara yang bisa diselamatkan.

Waktu terus berputar dan keadaan terus berjalan dengan segala perubahan dan suka dukanya. Warga masyarakat nurut dan berdiam diri. Apa yang telah menjadi ketentuan pemerintah dijalanai. Meskipun terasa pahit dan getir. Meskipun beban kebutuhan hidup terasa lebih berat. Rata- rata semua diam. Hanya bisa menghela nafas panjang berkali-kali.

Ketika bulan Mei 2015 tiba, tidak dinyana kemudian ada demonstrasi atau unjukrasa damai dari seluruh elemen Mahasiswa seluruh Indonesia. Menyuarakan aspirasinya mewakili warga yang notabene dalam hal ini adalah keluarganya, para orang tuannya yang membiayai sekolahnya. Para orang tua atau warga masyarakat yang menjadi Kepala Keluarga merasa tertekan dengan adanya saran untuk membiasakan diri membeli barang-barang kebutuhan dan ongkos-ongkos yang mahal.

Nah, sekarang bisa dirasakan bahwa apakah kebijakan agar masyarakat mau mengerti dan bersedia menderita dengan harga-harga yang terus membubung tinggi adalah kebijakan yang tepat dan efektif? Sementara itu kegiatan ekonomi makro dilaporkan BPS keadaan laju ekonomi Indonesia, mengalami pelambatan, target masih berada dikisaran 4,7% (Bloomberg Tv) mari kita simak bersama-sama.

Senin, 19 Januari 2015

Ribut Jadi Ciri Sistem Demokrasi

Inilah konsekwensi dari menganut sistem demokrasi. Tidak usah kaget dengan keadaan yang ribut terus. Sedikit-sedikit ribut, ricuh, turun jalan. Ramai-ramai berdemontrasi dan melakukan aksi orasi ditempat terbuka.

Memang lalu terkesan kacau balau keadaannya. Semrawut, tidak keruan alur yang hendak dicapai. Namun biasanya kemudian semua kejadian mengendap. Bagai air yang jernih kena aduk menjadi keruh. Kemudian air ditenangkan dan menjadi jernih kembali. Biasanya kejernihan setelah itu terasa lebih hidup, lebih sehat.

Demikian pula keadaan dinegeri ini. Gaduh politik. Kisruh politik. Keadaan menjadi menghangat. Kalau perlu memanas sedikit. Haha... kayak buat masakan itu, diberi bumbu yang pedas agar lebih mantap dan nyaman.

Seperti baru-baru ini, pemerintah mau milih ketua MK ribut, mau memilih Ketua KPK ribut, mau memilih Kepala Polisi ribut, bahkan nanti kalau ada musim pilihan gubernur, bupati, kades.. bisa diprediksi akan ribut dan ribut lagi.

Begitulah kalau menganut sistem demokrasi. Tidak enak memang kisruh terus. Sebagian orang jadi jenuh dan bosen dengan sistem ini. Lalu merindukan gaya pengaturan yang streng. Yang otoriter asal stabil sehingga kehidupan sosial ekonomi tampak agak lebih tenang. Namun meskipun sistem demokrasi itu dianggap jelek mungkin, tapi menurut para ahli dan pengamat menilai bahwa sistem demokrasi tetap jadi pilihan terbaik. Ini dibanding dengan sistem Monarki atau sistem-sistem lainnya yang terjadi sebelum jaman demokrasi merebak seperti sekarang.

Jadi se tak enak-enaknya sistem demokrasi masih yang paling enak. haha... ya seperti rasa masakan tadi. Pedas tapi dicari. Hmmm.....

Jadi kesimpulannya, kita tidak usah kaget atau heran atau jenuh atau muak dengan sistem demokrasi seperti yang kita anut sekarang. KIta patut bersyukur dengan penjaminan kebebasan berbicara dan atau berpendapat. Hak-hak individu didengar dan diberi perhatian khusus secukupnya. Dibanding dengan sistem lain yang membungkam hak individu untuk bisa hidup lebih enjoy dan nyaman.

Selasa, 06 Januari 2015

Awal Tahun 2015 yang Rada Kelam

Senyampang masih dalam nuansa tahun baru, ada baiknya kalau kita masing-masing meluangkan waktu untuk mencatat apa saja yang bisa dirasakan, dilihat, dan didengar. Kemudian menuangkan apa yang sedang terpikirkan kedalam suatu tulisan. Tujuannya untuk menyimpan kesan pertama yang kita rasakan dalam menyambut tahun 2015 ini.

Bagi saya pergantian tahunnya 2014 ke 2015, terasa biasa dan datar-datar saja. Tidak terlalu semarak. Tetapi yang tidak biasa dan mengejutkan adalah terjadinya tragedi jatuhnya pesawat terbang komersial AirAsia QZ 8501 pada 27 Desember 2014 di Selat Karimata, Laut Jawa yang pada awal bulan Januari ini masih berlangsung dilakukannya pencarian dan evakuasi korban meninggal. Dari sejumlah yang diperkirakan 160 orang korban meninggal sampai dengan hari ini, yang sudah ditemukan dan di evakuasi oleh Tim Cabungan Basarnas masih sejumlah 37 orang. Kelambatan atau kesulitan operasi tim gabungan ini dikarenakan kondisi medan dan cuaca yang tidak bersahabat.

Kejutan lain diawal tahun ini antaranya, tentang gaduh naik dan turunnya harga BBM dalam negeri. Yang dipersoalkan kalayak ramai adalah kenapa saat harga minyak dunia turun tapi harga minyak dalam negeri malah naik. Kalaupun dengan alasan untuk menyelamatkan APBN 2015 dari ancaman defisit anggaran, kebijakan ini dinilai kurang tepat. Sepertinya ada 'some things wrong,'terbukti oleh adanya kebijakan penurunan kembali harga BBM dalam negeri. Sementara itu harga minyak dunia dikabarkan turun terus. Dan.. oh, nilai tukar rupiah terus melemah terhadap Dolar Amerika sampai sekira Rp. 12.700,-

Inilah kesan yang bisa saya catat sementara ini. Jadi mengawali tahun ini tersendat oleh adanya sisa masalah ditahun kemarin (2014) yang cukup menguras energi.