Senin, 19 Januari 2015

Ribut Jadi Ciri Sistem Demokrasi

Inilah konsekwensi dari menganut sistem demokrasi. Tidak usah kaget dengan keadaan yang ribut terus. Sedikit-sedikit ribut, ricuh, turun jalan. Ramai-ramai berdemontrasi dan melakukan aksi orasi ditempat terbuka.

Memang lalu terkesan kacau balau keadaannya. Semrawut, tidak keruan alur yang hendak dicapai. Namun biasanya kemudian semua kejadian mengendap. Bagai air yang jernih kena aduk menjadi keruh. Kemudian air ditenangkan dan menjadi jernih kembali. Biasanya kejernihan setelah itu terasa lebih hidup, lebih sehat.

Demikian pula keadaan dinegeri ini. Gaduh politik. Kisruh politik. Keadaan menjadi menghangat. Kalau perlu memanas sedikit. Haha... kayak buat masakan itu, diberi bumbu yang pedas agar lebih mantap dan nyaman.

Seperti baru-baru ini, pemerintah mau milih ketua MK ribut, mau memilih Ketua KPK ribut, mau memilih Kepala Polisi ribut, bahkan nanti kalau ada musim pilihan gubernur, bupati, kades.. bisa diprediksi akan ribut dan ribut lagi.

Begitulah kalau menganut sistem demokrasi. Tidak enak memang kisruh terus. Sebagian orang jadi jenuh dan bosen dengan sistem ini. Lalu merindukan gaya pengaturan yang streng. Yang otoriter asal stabil sehingga kehidupan sosial ekonomi tampak agak lebih tenang. Namun meskipun sistem demokrasi itu dianggap jelek mungkin, tapi menurut para ahli dan pengamat menilai bahwa sistem demokrasi tetap jadi pilihan terbaik. Ini dibanding dengan sistem Monarki atau sistem-sistem lainnya yang terjadi sebelum jaman demokrasi merebak seperti sekarang.

Jadi se tak enak-enaknya sistem demokrasi masih yang paling enak. haha... ya seperti rasa masakan tadi. Pedas tapi dicari. Hmmm.....

Jadi kesimpulannya, kita tidak usah kaget atau heran atau jenuh atau muak dengan sistem demokrasi seperti yang kita anut sekarang. KIta patut bersyukur dengan penjaminan kebebasan berbicara dan atau berpendapat. Hak-hak individu didengar dan diberi perhatian khusus secukupnya. Dibanding dengan sistem lain yang membungkam hak individu untuk bisa hidup lebih enjoy dan nyaman.

Selasa, 06 Januari 2015

Awal Tahun 2015 yang Rada Kelam

Senyampang masih dalam nuansa tahun baru, ada baiknya kalau kita masing-masing meluangkan waktu untuk mencatat apa saja yang bisa dirasakan, dilihat, dan didengar. Kemudian menuangkan apa yang sedang terpikirkan kedalam suatu tulisan. Tujuannya untuk menyimpan kesan pertama yang kita rasakan dalam menyambut tahun 2015 ini.

Bagi saya pergantian tahunnya 2014 ke 2015, terasa biasa dan datar-datar saja. Tidak terlalu semarak. Tetapi yang tidak biasa dan mengejutkan adalah terjadinya tragedi jatuhnya pesawat terbang komersial AirAsia QZ 8501 pada 27 Desember 2014 di Selat Karimata, Laut Jawa yang pada awal bulan Januari ini masih berlangsung dilakukannya pencarian dan evakuasi korban meninggal. Dari sejumlah yang diperkirakan 160 orang korban meninggal sampai dengan hari ini, yang sudah ditemukan dan di evakuasi oleh Tim Cabungan Basarnas masih sejumlah 37 orang. Kelambatan atau kesulitan operasi tim gabungan ini dikarenakan kondisi medan dan cuaca yang tidak bersahabat.

Kejutan lain diawal tahun ini antaranya, tentang gaduh naik dan turunnya harga BBM dalam negeri. Yang dipersoalkan kalayak ramai adalah kenapa saat harga minyak dunia turun tapi harga minyak dalam negeri malah naik. Kalaupun dengan alasan untuk menyelamatkan APBN 2015 dari ancaman defisit anggaran, kebijakan ini dinilai kurang tepat. Sepertinya ada 'some things wrong,'terbukti oleh adanya kebijakan penurunan kembali harga BBM dalam negeri. Sementara itu harga minyak dunia dikabarkan turun terus. Dan.. oh, nilai tukar rupiah terus melemah terhadap Dolar Amerika sampai sekira Rp. 12.700,-

Inilah kesan yang bisa saya catat sementara ini. Jadi mengawali tahun ini tersendat oleh adanya sisa masalah ditahun kemarin (2014) yang cukup menguras energi.

Kamis, 04 Desember 2014

Sepi dan Dingin yang Tidak Sepi dan Dingin

Mau nyelotehin apa ya dilarut malam yang dingin dan sepi ini. Hehe, rupanya cuman dalam hati aja deh. Karena meski nyelotehpun tetap aja sepi. Sepinya malam yang dingin. Dinginnya malam yang sepi.
Tapi sebenarnya tidak sepi benar sebab bunyi burung dalam sangkar gencar, alarm beberapa Hp pada bersaing, kokok ayam jantan bersautan. Dan dinginpun sudah ditangkal oleh selimut tebal yang berbulu. Jadi tidak ada alasan untuk berkata sepi dan dingin, walau keadaan dirasa sepi dan dingin.

Jumat, 06 Desember 2013

Bisa Jadi Uang Datang Malapetaka Datang

Memegang Uang ditangan apalagi dalam jumlah yang banyak akan membuat orang menjadi serba tidak tenang. Keadaan ini dapat dirasakan dan dibandingkan saat orang justru sebaliknya cenderung kekurangan Uang namun dapat tidur dengan nyenyak. Kalau rasa tidak tenang sudah menyerang pada saat orang sedang memegang uang banyak biasanya seterusnya akan menjadikan orang tersebut makin tidak tenang dan panik. Dalam keadaan panik ini tidak disadarinya bahwa telah banyak uang yang dipegangnya berkurang sedikit demi sedikit jumlahnya. Kenapa kog bisa begitu? Ya sebab ketika seseorang mengalami kepanikan ia akan mencari ketenangan yang sebelumnya dimilikinya. Ia merasa kini kog sulit untuk menjadi tenang itu, terutama pada saat memegang uang banyak. Tidak tahu kapan datangnya, tiba-tiba saja kecemasan berubah menjadi merasakan ketakutan akan keadaan bahwa uang yang dimilikinya akan habis percuma.

Orang akan mencari ketenangan itu kembali padanya dengan cara mencarinya disuatu tempat yang indah atau yang jauh atau pada suatu bentuk benda tertentu yang sepertinya tadinya disukainya. Akan tetapi kemudian apa yang dicarinya tidak ia temukan. Pada titik pikir disinilah biasanya lalu uang-uang tumpah atau lepas begitu saja dari genggaman tangan yang selalu gatal untuk membelanjakan apa saja yang diinginkan untuk melegakan hatinya yang tidak kunjung lega.

Nah, persoalannya bagaimana caranya agar tidak terperangkap oleh keadaan seperti tersebut diatas. Tidak lain adalah dengan cara menyimpan uang itu diluar rumah. Tidak dipegang dengan tangan dalam jumlah yang banyak apalagi. Peganglah uang seperlunya saja. Sebagian besar yaitu yang lainnya disimpan di-lembaga pengelola jasa keuangan. Jadi agar tidak usah repot-repot memegang atau menjaganya dan lagian tidak memerlukan kekhawatiran akan habis. Ya uangnya diungsikan dan orangnya diselamatkan. Hmm.. ada-ada saja.

Minggu, 29 September 2013

Melekan Malam Mencari Inspirasi

Malam ini duduk sendiri ditemani salah satu Stasiun Televisi yang menayangkan acara malam yang berisik dan konyol sekali. Terserah mau main apa tivinya. Silahkan saja, makin berisik makin asyik kog malam-malam sendiri melekan begini. Lhoh ada apa tidak pergi tidur saja? Cari gawe aja pakai melekan segala! Itulah mungkin antara lain yang ada dibenak pembaca setelah secara kebetulan terjebak dan membaca celoteh ini. Hehe.. tenang ajalah.

Yah entahlah kenapa akhir-akhir ini keadaan datang begitu saja menghimpit. Dengan derasnya tiba-tiba masalah bertumpuk dihadapan mata. Kesemuanya tampak menunggu penyelesaian segera. Nah, oleh sebab hal-hal tsb. diatas itulah makanya sekarang tidak tidur.

Disamping untuk mencari jalan keluar terhadap masalah yang menghimpit terus yang lebih penting dari itu adalah melekan malam ini dimaksudkan juga untuk melihat, merasakan dan memahami satu-persatu apa saja yang dirasakan oleh fihak yang melakoni langsung lakon kegiatan harian yang dialami. Kemudian memberikan support atas keadaan yang ada yang terlihat. Dukungan tidak harus materi saja tapi moril juga lebih penting karena dapat memberi ketenangan dan semacam perlindungan terhadap masalah yang mendera.

Mudahan aksi tidak tidur ini besok pagi akan dapat memberikan inspirasi jalan keluar sebagai solusi tepatnya. Iya begitu kira-kira rasanya. Coba saja kita lihat besok.

Kamis, 24 Januari 2013

Dipersimpangan Jalan Orang Bisa Ragu

Ketika seseorang berjalan dijalan tunggal atau lurus, maka orang tersebut akan cenderung bergerak mengikuti alur jalan. Berbeda bila berada dijalan yang bersimpangan banyak. Semisal diperempatan, kebanyakan orang menjadi bimbang. Disini orang akan dihadapkan dengan banyak pilihan. Kemana gerangan arah yang tepat yang hendak dipilih. kemudian menjadi termangu-mangu. Menjadi ragu-ragu. Tujuan utama bisa dikalahkan oleh pikiran baru yang berubah-ubah. Itulah gambaran umum orang bila berada dipersimpangan jalan. Begitupun juga dengan yang namanya rencana kegiatan yang hendak ditempuh orang. Makin banyak yang direncanakan makin tidak fokuslah apa yang hendak dikerjakan. Jika terpaksa dilakukan dikerjakan dengan tidak sepenuh hati. Apabila keadaan Sudan demikian, bisa ditebak hasilnya, yakni hasil yang tidak maksimal. Lalu orang akan merasa gamang Dan mungkin juga galau. Hehe.. usaha yang setengah-setengah. Lalu semestinya bagaimana yang seharusnya? Tentu saja bergantung pada kuatnya niat awal yang sudah direncanakan sebelumnya dengan masak-masak. Jadi ditengah perjalanan menuju tujuan yang hendak dicapai, senantiasa memantapkan diri dalam melaksanakan semua kegiatan yang perlu dijalani. Hmm.. Oke, semoga obrolan ini dapat berarti.

Rabu, 02 Januari 2013

Sakit itu Datangnya Tak Perlu Undangan

Akhir-akhir ini yang namanya orang jatuh sakit terasa makin banyak saja jumlahnya. Suatu contoh, tidak usah jauh-jauh.Dari antara kenalan dan kerabatku, banyak sekali yang tiba-tiba jatuh sakit begitu saja. Dari sakit yang paling ringan seperti sakit Flu atau batuk-batuk, dan lain-lain sampai yang paling berat, deabet dan gangguan fungsi organ lambung, liver, jantung dan lain-lain. Termasuk gangguan keswa. Sehat dan sakit selalu silih berganti. Tapi cara datangnya berbeda. Kalau mencari sehat memerlukan semacam surat undangan. Maksudku.. sehat itu memerlukan adanya tingkat kesadaran kita untuk mengetahui tanda dan gejala adanya gangguan kesehatan. Kalau diri kita cuek atau kurang memperdulikan status kesehatan kita, entah karena disengaja atau karena ketidak tahuan akan hal-ikhwal tentang perjalanan suatu penyakit, maka keadaan begini akan menciptakan kondisi rentang sehat-sakit itu merosot nilainya. Dari keadaan merasa diri sehat ke merasa diri sakit. Iya.. merasa diri tidak sehat. Nah.., inilah maksudku bahwa sakit atau penyakit itu tidak memerlukan undangan. Sebab kita sebelumnya sudah secara sengaja atau tidak telah mengkondisikan agar si-penyakit itu datang. Jadi mungkin penyakit itu datang seperti diundang -padahal tidak diundasng- adalah disebabkan oleh adanya sikap dan perilaku kita sendiri yang bertentangan dengan prinsip-prinsip hidup sehat. Kata pepatah hidup itu mudah, yang sulit adalah hati manusia. Hahaha.. enak aja pepatah bilang begitu. Tapi emang iya kok, orang hidup itu cenderung senang mencari kesulitan yang tidak perlu. Akibatnya karena kita tidak atau kurang bisa mengelola masalah atau kesulitan atau persoalan yang mendera diri kita; lalu tingkat stress yang dialami meninggi dan memuncak menimbulkan gejala psikis (kejiwaan) sampai somatik (membekas keraga. Terus solusinya? Kita harus tau dan ingat bahwa penyakit itu kata pakar kesehatan 90% disebabkan oleh pikiran kita sendiri. Maka dari itu.. marilah kita belajar bersama mengelola masalah-masalah hidup yang selalu mendera diri kita. Minimal dengan cara mengatakan kepada diri kita bahwa diri kita tidak mau sakit! Aku tidak mau sakit!! Hmm.. enak aja bilang begitu. Lho.. tapi cara ini mujarap loh. Kenapa ya? Mungkin oleh karena pusat pemerintahan kesadaran kita yang namanya otak itu telah memberikan aba-aba agar jangan diri kita jatuh sakit adalah didengar oleh anggota tubuh kita. Sehingga tubuh menciptakan kondisi metabolisme tubuh yang sehat. Hehehe.. ini nyontek dari buku "Cara Hidup Berpikir Positif". Uhuiii.....