Selasa, 06 Januari 2015

Awal Tahun 2015 yang Rada Kelam

Senyampang masih dalam nuansa tahun baru, ada baiknya kalau kita masing-masing meluangkan waktu untuk mencatat apa saja yang bisa dirasakan, dilihat, dan didengar. Kemudian menuangkan apa yang sedang terpikirkan kedalam suatu tulisan. Tujuannya untuk menyimpan kesan pertama yang kita rasakan dalam menyambut tahun 2015 ini.

Bagi saya pergantian tahunnya 2014 ke 2015, terasa biasa dan datar-datar saja. Tidak terlalu semarak. Tetapi yang tidak biasa dan mengejutkan adalah terjadinya tragedi jatuhnya pesawat terbang komersial AirAsia QZ 8501 pada 27 Desember 2014 di Selat Karimata, Laut Jawa yang pada awal bulan Januari ini masih berlangsung dilakukannya pencarian dan evakuasi korban meninggal. Dari sejumlah yang diperkirakan 160 orang korban meninggal sampai dengan hari ini, yang sudah ditemukan dan di evakuasi oleh Tim Cabungan Basarnas masih sejumlah 37 orang. Kelambatan atau kesulitan operasi tim gabungan ini dikarenakan kondisi medan dan cuaca yang tidak bersahabat.

Kejutan lain diawal tahun ini antaranya, tentang gaduh naik dan turunnya harga BBM dalam negeri. Yang dipersoalkan kalayak ramai adalah kenapa saat harga minyak dunia turun tapi harga minyak dalam negeri malah naik. Kalaupun dengan alasan untuk menyelamatkan APBN 2015 dari ancaman defisit anggaran, kebijakan ini dinilai kurang tepat. Sepertinya ada 'some things wrong,'terbukti oleh adanya kebijakan penurunan kembali harga BBM dalam negeri. Sementara itu harga minyak dunia dikabarkan turun terus. Dan.. oh, nilai tukar rupiah terus melemah terhadap Dolar Amerika sampai sekira Rp. 12.700,-

Inilah kesan yang bisa saya catat sementara ini. Jadi mengawali tahun ini tersendat oleh adanya sisa masalah ditahun kemarin (2014) yang cukup menguras energi.

Kamis, 04 Desember 2014

Sepi dan Dingin yang Tidak Sepi dan Dingin

Mau nyelotehin apa ya dilarut malam yang dingin dan sepi ini. Hehe, rupanya cuman dalam hati aja deh. Karena meski nyelotehpun tetap aja sepi. Sepinya malam yang dingin. Dinginnya malam yang sepi.
Tapi sebenarnya tidak sepi benar sebab bunyi burung dalam sangkar gencar, alarm beberapa Hp pada bersaing, kokok ayam jantan bersautan. Dan dinginpun sudah ditangkal oleh selimut tebal yang berbulu. Jadi tidak ada alasan untuk berkata sepi dan dingin, walau keadaan dirasa sepi dan dingin.

Jumat, 06 Desember 2013

Bisa Jadi Uang Datang Malapetaka Datang

Memegang Uang ditangan apalagi dalam jumlah yang banyak akan membuat orang menjadi serba tidak tenang. Keadaan ini dapat dirasakan dan dibandingkan saat orang justru sebaliknya cenderung kekurangan Uang namun dapat tidur dengan nyenyak. Kalau rasa tidak tenang sudah menyerang pada saat orang sedang memegang uang banyak biasanya seterusnya akan menjadikan orang tersebut makin tidak tenang dan panik. Dalam keadaan panik ini tidak disadarinya bahwa telah banyak uang yang dipegangnya berkurang sedikit demi sedikit jumlahnya. Kenapa kog bisa begitu? Ya sebab ketika seseorang mengalami kepanikan ia akan mencari ketenangan yang sebelumnya dimilikinya. Ia merasa kini kog sulit untuk menjadi tenang itu, terutama pada saat memegang uang banyak. Tidak tahu kapan datangnya, tiba-tiba saja kecemasan berubah menjadi merasakan ketakutan akan keadaan bahwa uang yang dimilikinya akan habis percuma.

Orang akan mencari ketenangan itu kembali padanya dengan cara mencarinya disuatu tempat yang indah atau yang jauh atau pada suatu bentuk benda tertentu yang sepertinya tadinya disukainya. Akan tetapi kemudian apa yang dicarinya tidak ia temukan. Pada titik pikir disinilah biasanya lalu uang-uang tumpah atau lepas begitu saja dari genggaman tangan yang selalu gatal untuk membelanjakan apa saja yang diinginkan untuk melegakan hatinya yang tidak kunjung lega.

Nah, persoalannya bagaimana caranya agar tidak terperangkap oleh keadaan seperti tersebut diatas. Tidak lain adalah dengan cara menyimpan uang itu diluar rumah. Tidak dipegang dengan tangan dalam jumlah yang banyak apalagi. Peganglah uang seperlunya saja. Sebagian besar yaitu yang lainnya disimpan di-lembaga pengelola jasa keuangan. Jadi agar tidak usah repot-repot memegang atau menjaganya dan lagian tidak memerlukan kekhawatiran akan habis. Ya uangnya diungsikan dan orangnya diselamatkan. Hmm.. ada-ada saja.

Minggu, 29 September 2013

Melekan Malam Mencari Inspirasi

Malam ini duduk sendiri ditemani salah satu Stasiun Televisi yang menayangkan acara malam yang berisik dan konyol sekali. Terserah mau main apa tivinya. Silahkan saja, makin berisik makin asyik kog malam-malam sendiri melekan begini. Lhoh ada apa tidak pergi tidur saja? Cari gawe aja pakai melekan segala! Itulah mungkin antara lain yang ada dibenak pembaca setelah secara kebetulan terjebak dan membaca celoteh ini. Hehe.. tenang ajalah.

Yah entahlah kenapa akhir-akhir ini keadaan datang begitu saja menghimpit. Dengan derasnya tiba-tiba masalah bertumpuk dihadapan mata. Kesemuanya tampak menunggu penyelesaian segera. Nah, oleh sebab hal-hal tsb. diatas itulah makanya sekarang tidak tidur.

Disamping untuk mencari jalan keluar terhadap masalah yang menghimpit terus yang lebih penting dari itu adalah melekan malam ini dimaksudkan juga untuk melihat, merasakan dan memahami satu-persatu apa saja yang dirasakan oleh fihak yang melakoni langsung lakon kegiatan harian yang dialami. Kemudian memberikan support atas keadaan yang ada yang terlihat. Dukungan tidak harus materi saja tapi moril juga lebih penting karena dapat memberi ketenangan dan semacam perlindungan terhadap masalah yang mendera.

Mudahan aksi tidak tidur ini besok pagi akan dapat memberikan inspirasi jalan keluar sebagai solusi tepatnya. Iya begitu kira-kira rasanya. Coba saja kita lihat besok.

Kamis, 24 Januari 2013

Dipersimpangan Jalan Orang Bisa Ragu

Ketika seseorang berjalan dijalan tunggal atau lurus, maka orang tersebut akan cenderung bergerak mengikuti alur jalan. Berbeda bila berada dijalan yang bersimpangan banyak. Semisal diperempatan, kebanyakan orang menjadi bimbang. Disini orang akan dihadapkan dengan banyak pilihan. Kemana gerangan arah yang tepat yang hendak dipilih. kemudian menjadi termangu-mangu. Menjadi ragu-ragu. Tujuan utama bisa dikalahkan oleh pikiran baru yang berubah-ubah. Itulah gambaran umum orang bila berada dipersimpangan jalan. Begitupun juga dengan yang namanya rencana kegiatan yang hendak ditempuh orang. Makin banyak yang direncanakan makin tidak fokuslah apa yang hendak dikerjakan. Jika terpaksa dilakukan dikerjakan dengan tidak sepenuh hati. Apabila keadaan Sudan demikian, bisa ditebak hasilnya, yakni hasil yang tidak maksimal. Lalu orang akan merasa gamang Dan mungkin juga galau. Hehe.. usaha yang setengah-setengah. Lalu semestinya bagaimana yang seharusnya? Tentu saja bergantung pada kuatnya niat awal yang sudah direncanakan sebelumnya dengan masak-masak. Jadi ditengah perjalanan menuju tujuan yang hendak dicapai, senantiasa memantapkan diri dalam melaksanakan semua kegiatan yang perlu dijalani. Hmm.. Oke, semoga obrolan ini dapat berarti.

Rabu, 02 Januari 2013

Sakit itu Datangnya Tak Perlu Undangan

Akhir-akhir ini yang namanya orang jatuh sakit terasa makin banyak saja jumlahnya. Suatu contoh, tidak usah jauh-jauh.Dari antara kenalan dan kerabatku, banyak sekali yang tiba-tiba jatuh sakit begitu saja. Dari sakit yang paling ringan seperti sakit Flu atau batuk-batuk, dan lain-lain sampai yang paling berat, deabet dan gangguan fungsi organ lambung, liver, jantung dan lain-lain. Termasuk gangguan keswa. Sehat dan sakit selalu silih berganti. Tapi cara datangnya berbeda. Kalau mencari sehat memerlukan semacam surat undangan. Maksudku.. sehat itu memerlukan adanya tingkat kesadaran kita untuk mengetahui tanda dan gejala adanya gangguan kesehatan. Kalau diri kita cuek atau kurang memperdulikan status kesehatan kita, entah karena disengaja atau karena ketidak tahuan akan hal-ikhwal tentang perjalanan suatu penyakit, maka keadaan begini akan menciptakan kondisi rentang sehat-sakit itu merosot nilainya. Dari keadaan merasa diri sehat ke merasa diri sakit. Iya.. merasa diri tidak sehat. Nah.., inilah maksudku bahwa sakit atau penyakit itu tidak memerlukan undangan. Sebab kita sebelumnya sudah secara sengaja atau tidak telah mengkondisikan agar si-penyakit itu datang. Jadi mungkin penyakit itu datang seperti diundang -padahal tidak diundasng- adalah disebabkan oleh adanya sikap dan perilaku kita sendiri yang bertentangan dengan prinsip-prinsip hidup sehat. Kata pepatah hidup itu mudah, yang sulit adalah hati manusia. Hahaha.. enak aja pepatah bilang begitu. Tapi emang iya kok, orang hidup itu cenderung senang mencari kesulitan yang tidak perlu. Akibatnya karena kita tidak atau kurang bisa mengelola masalah atau kesulitan atau persoalan yang mendera diri kita; lalu tingkat stress yang dialami meninggi dan memuncak menimbulkan gejala psikis (kejiwaan) sampai somatik (membekas keraga. Terus solusinya? Kita harus tau dan ingat bahwa penyakit itu kata pakar kesehatan 90% disebabkan oleh pikiran kita sendiri. Maka dari itu.. marilah kita belajar bersama mengelola masalah-masalah hidup yang selalu mendera diri kita. Minimal dengan cara mengatakan kepada diri kita bahwa diri kita tidak mau sakit! Aku tidak mau sakit!! Hmm.. enak aja bilang begitu. Lho.. tapi cara ini mujarap loh. Kenapa ya? Mungkin oleh karena pusat pemerintahan kesadaran kita yang namanya otak itu telah memberikan aba-aba agar jangan diri kita jatuh sakit adalah didengar oleh anggota tubuh kita. Sehingga tubuh menciptakan kondisi metabolisme tubuh yang sehat. Hehehe.. ini nyontek dari buku "Cara Hidup Berpikir Positif". Uhuiii.....

Selasa, 01 Mei 2012

Abunawas Diangkat Jadi Penasehat Raja

Dahulu kala ada seorang Raja dari negara Entah Barantah. Baginda raja ini termasuk raja yang paling ngetop. Tapi tunggu dulu ya, top apanya ya.. tidak lain adalah top tentang aksi demo rakyatnya. Terlalu seringnya aksi unjuk rasa mengecam kebijaksanaannya yang dikenal kurang pro rakyatnya. Kebijakan yang dibuat dianggap terlalu melindungi kepentingan asing.

Menurut Baginda raja, pemodal asing ini perlu dibuat kerasan tinggal dinegeri Entah Barantah yang dikendalikannya. Dengan banyaknya pemodal asing yang menanamkan investasi dinegerinya, maka peredaran uang akan berdampak positif bagi perekonomian dalam negeri. Begitulah konsep strategi bidang ekonomi yang diterapkan olehnya. Disamping itu Baginda akan semakin mendapat kemudahan dukungan finansial dari negara-negara investor, sekaligus menjadi negara pemberi hutangan.

Namun demikian para investor asing dilain fihak, mempunyai kiat-kiat tertentu pula untuk dapat secara cepat memupuk modalnya. Mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, dan pengeluaran sekecil-kecilnya. Bukankah dinegeri Entah Barantah ini tenaga kerjanya murah banget. Mengapa tidak membuka lahan disana. Lagian sumber daya alamnya yang kaya melimpah ruah. Hmm.. eman kalau tidak di kuasai dan di eksploitasi. Pasti akan mendapat keuntungan ganda dan bahkan berlipat- lipat. Demikian pikir para investor asing tersebut.

Tapi bagaimana ya cara masuk dan mempengaruhi negeri Entah Barantah ini. Oh ya, bukankah Baginda raja selalu membutuhkan uang untuk biaya operasionalnya yang terkenal royal. Haa ya.. maka para investor asingpun akhirnya masuk dengan cara ini. Segala kebutuhan finansial dicukupi. Kemudian rencana aselinya dilancarkan, yaitu membuka bisnis pertambangan. Mengeksploitasi dan mengeksflorasi kekayaan alam negeri Entah Barantah. Bisnis untuk mengeruk hasil tambang, atau menguras hasil bumi ini paling disukai para investor asing. Mereka berusaha berurat berakar dibidang ini. Termasuk bisnis minyak bumi.

Sayang keadaan tidak berlangsung lama karena, tiba-tiba kini keadan sudah berubah. Baginda raja tidak merasakan perubahan jaman yang sedang berjalan. Mungkin karena keasyikan turut mengenyam kenikmatan strategi jitu. Perubahan jaman dirasakannya berputar terlalu cepat. Rakyatnya menjadi makin sadar kalau dirinya hanya diperalat dan dijadikan korban keserakahan. Akhirnya rakyat bersatu-padu melakukan protes-protes tentang ini itu. Sang Baginda raja sampai pusing merasakan didaulat terus-menerus oleh para rakyatnya yang sebagian besar hidupnya masih sengsara dan kelaparan kekurangan pangan.

Dalam keadaan  begini Baginda raja menjadi teringat akan seorang sahabatnya yang bernama pak Abunawas. Seorang yang dikenal amat cerdik membuat kiat alasan atau dalih-dalih. Megapa tidak minta bantuan pak Abunawas saja ya.. dia kan nanti bisa kasih saran untuk bagaimana menghadapi para pengunjuk rasa yang makin berani dan sering dilakukan ini. Hah, ya! begitulah pikir Baginda raja, lalu para punggawa disuruhnya memaggil pak Abunawas untuk menghadapnya.

Disuatu pagi yang cerah, pak Abunawas datang memenuhi panggilan Baginda raja. Ia dipersilahkan duduk ngesot dihadapan raja yang duduk megah disinggasananya. "Wahai Abunawas.. tahukah engkau maksud pemamggilanmu keIstana ini?" tanya Sang Baginda raja. "Daulat Tuanku.. hamba belum tahu" jawab pak Abunawas, penuh selidik. Pikirnya, wah Baginda ini pasti akan memita pendapatnya.

Baginda raja mengambil Pipa rokok bengkongnya. Ditempelkan dibibirnya yang tampak klemis tanpa kumis. Digigitnya pipa rokok yang sudah ada tembakau didalamnya. Lalu seorang ajudan pelayan raja menyalakan pemantik antik milik raja. "Crassss'' bunyi pemantik tersebut memenuhi keheningan suasana ruangan pertemuan.raja. Asap mengepul berputar-putar membubung keudara ruang yang luas itu. Sekali lagi Sang Baginda menghisap rokoknya, lalu bertitah: "Engkau tahu sendiri Abunawas.. aku terlalu risih melihat para rakyat yang selalu berunjuk rasa itu. Maka oleh karena itu engkau sekarang kutunjuk menjadi penasehatku!" Suara Baginda terdengar mantap, sambil mata Baginda menatap tajam kemuka pak Abunawas. "Ampun Tuanku.. nasehat apakah yang Baginda perlukan Tuanku sampai mengangkat hamba menjadi penasehat?" jawab pak Abunawas dengan penuh hati-hati, sebenarnya lebih kepada sekedar basa-basi. "Begini..", kata Baginda raja. "Bagaimana cara menghadapi para pendemo yang makin menyebalkan itu? Aku ingin tidak usah repot-repot menghadapinya."

"Ooo masalah itu mah gampang sekali Baginda! Ketka mereka berdemo didepan Istana, tinggalkan saja Istana ini Baginda !!, bisa kan liwat pintu darurat. Dan pergi bersantai ketempat lain.. beres sudah!" sahut pak Abunawas dengan lancar.

"Oh.. benar sekali engkau Abunawas. Baik kalau begitu. Setiap ada demo aku akan keluar Istana dan pergi bersantai ditempat kesukaanku. Tidak rugi aku mengangkatmu menjadi penasehatku" kata Baginda sambil memanggut- magutkan kepalanya terkesan serius.

Maka sejak pak Abunawas menjadi penasehat raja, Sang Baginda kini tidak usah merasa pusing-pusing lagi menghadapinya. Cukup dengan meninggalkan Istana dan pergi ketempat lain. Hmm.. ya, Biarkan anjing mengonggong Khalifah tetap berlalu. **