Kamis, 18 Agustus 2011

Lamunan Si Bogel Ingin Dapat Togel

Cara orang memperoleh rejekinya macam- macam. Ada yang memang hasil dari jerih payah bekerja secara fisik, misalnya buruh tani. Adapula dari hasil kerja pikiran dan ilmu yang dimiliki, misalnya Pengacara, Notaris. Ada yang atas jerih payah kerja fisik dan pikiran/ pengetahuan yang dimilikinya, misalnya Montir, Dokter operasi. Ada yang berdasarkan hasil kerja fisik dan naluri bisnis, misalnya Usaha Pracangan, Pedagang Tengkulak, Pedagang asongan. Pedagang dengan cara amanat barang orang lain. Dan lain- lain. Kesemuanya dari hasil kerja. Tapi bagi yang mempunyai pekerjaan.

Sementara itu lapangan kerja dirasa makin sempit. Jadi dengan kata lain, makin banyak orang yang tak mempunyai pekerjaan. Katakanlah pengangguran tersamar sampai dengan yang benar- benar pengangguran asli.

Sebenarnya sih, pekerjaan itu banyak. Tapi kebanyakan orang mengartikannya, bekerja keorang lain atau di perusahaan atau di pengusaha apa atau di proyek apa atau di kantor pemerintah atau pokoknya maksudnya bekerja ikut orang lain yang membutuhkan tenaga atau pikiran pencari kerja.

Untuk pekerjaan yang sifatnya diupayakan sendiri, seperti mencari rumput hewan ternak, mencari daun jati, daun pisang; atau mencari kayu bakar dan dijual. Atau berusaha membuka tambal ban/ vukanisir atau jualan buah- buahan, atau berjualan Es Tontong, berjualan Cilok, Bakso, Dagang ayam, kambing, sapi; atau menjual jasa pelayanan seperti jasa mencarikan kontrakan rumah, keahlian mencukur rambut, keahlian menjahit, keterampilan mengurut badan, keterampilan meramal nasib, jasa meramal fengsui, hongsuinipun, sampai dengan jasa keterampilan meramal nomer togel, dan lain sebagainya. Banyak sekali sebetulnya macam pekerjaan yang diusahakan sendiri ini.

Namun demikian, banyak orang mengeluh tidak memiliki pekerjaan. Entahlah faktor apa yang membuat mereka yang merasa tidak memiliki pekerjaan ini merasa benar- benar tidak punya pekerjaan yang difinitif. Apakah faktor kemalasan, atau faktor ketidak beruntungan saja belum mendapat kesempatan kerja, atau kurang memiliki daya kreasi, atau memang enggak bisa berpikir abstrak yang bisa digunakan untuk berencana menciptakan lapangan kerja sendiri manakala tidak mendapatkan pekerjaan dari orang lain. Atau karena gengsi yang melekat pada diri seseorang cukup tinggi sehingga tidak mau melakukan pekerjaan yang dianggap serampangan meskipun sebenarnya masih terbilang halal. Kita tidak bisa tahu pasti.

Disini, yang mau diungkapkan bukan mencari penyebab mengapa orang tidak memiliki pekerjaan dan akhirnya tidak atau kurang mendapatkan penghasilan tetap setiap harinya. Yang akan diceritakan adalah keadaan mereka- mereka yang entah frustrasi atau memang sedang vakum, atau habis terkena PHK, tetapi kebutuhan harian tetap menuntut harus memiliki sejumlah uang untuk biaya hidup sehari- hari. Baik untuk diri sendiri karena masih membujang, untuk keluarga karena memang sudah beranak istri; pokoknya tidak ada barang gratis didunia ini. Seolah dunia berkata, barang siapa tidak bekerja janganlah ia makan. Aduh dari titik ini, terasakan sekali dunia sangat kejam. Terutama bagi yang tidak memiliki pekerjaan pasti.

Hari berganti hari, dan minggu berganti minggu. Upaya pencarian kerja tidak berhasil. Uang tabungan menipis. Tetapi kebutuhan hidup sehari- hari tak pernah bisa dikompromi agar ikut libur juga. Biasanya kalau sudah sampai begini seseorang akan jadi kelimpungan walau hidup seorang diri, apalagi kalau sudah berkeluarga. Wah bisa pusing deh memikirkannya. Nah Si Bogel disini masuk hitungan kelompok orang- orang yang sedang kelimpungan.

Dalam keadaan kepepet biasanya orang memiliki kemampuan luar biasa untuk dapat mengatasi masalah dan kesulitannya. Tidak terkecuali Si Bogel, yang sebetulnya apabila dilihat secara cermat, adalah bukan orang yang bodoh- bodoh amat atau pemalas. Hanya mungkin kesempatan dan peluang bagus sedang tidak memihak padanya.

Pada suatu hari, disiang bolong tiba- tiba saja ia punya pikiran melayang, yaitu melamun sesaat dan bergumam sendiri. "Andai kata saja, keadaan seperti ini, lalu aku mendapat lotre togel 10 lembar, wah.. mungkin aku akan sedikit bisa bernapas", ia terbangun dari tidurannya diatas tempat tidur bututnya. Duduk termenung seakan sedang memikirkan sesuatu rencana.

Si Bogel berpindah tempat dan duduk dimeja ubin antiknya. Tampak memegang pen dan kertas. Rupanya sedang menuliskan angka- angka dengan susunan tertentu. Tiba- tiba wajahnya tampak berseri- seri dan sangat optimis. Singkat cerita, Si Bogel hari ini telah membeli beberapa pasang nomer lotre Togel.

Beberapa saat si Bogel lupa dengan kesedihannya, karena sore harinya ia sibuk dengan kegiatan lainnya, antara lain membersihkan rumahnya, menyiram halaman rumahnya yang tampak kering dan berdebu. Menghadiri kenduri dirumah tetangganya.

Ternyata memang aral tak dapat ditolak, rejeki tak dapat disangka. Pada malam harinya, Si Bogel mendapatkan Lotre Togel 10 Lembar. Hati si Bogel bergetar sebentar. Kemudian setelah tenang ia pergi mengurusi Lotre Togelnya.

Lamunan si Bogel kali ini menjadi kenyataan. Ia telah mengantongi sejumlah uang. Ia berencana akan membeli beberapa kebutuhan hariannya yang pada hari- hari terakhir ini persediaannya habis. Dalam hati ia mengucapkan puji syukur, karena telah mendapat rejeki yang tak disangka- sangka. Meskipun jauh didalam lubuk hatinya ada perasaan lain. Mungkin perasaan gamang akan apa yang telah dilakukannya, bahwa perbuatan membeli Lotre Togel ini baik atau buruk baginya. Si Bogel sementara ini tak dapat memikirkannya.


Rabu, 10 Agustus 2011

Bangsa Indonesia Bangsa Tahu Tempe Dikata Bodoh Tapi Cerdas

Stigma lama menyebutkan bahwa kita ini adalah bangsa yag berotak tahu dan berperilaku tempe. Dimaksudkan untuk menggambarkan kondisi kecerdasan bangsa Indonesia yang masih primitif cara berpikirnya. Masih terbelakang budayanya. Paling tidak ini menurut pandangan kacamata bangsa barat. 

Namun kini lain keadaannya. Cari kutu diatas karang, dulu lain sekarang, peribahasanya begitu. Kita memang awalnya terpukul dengan anggapan tersebut. Kemudian yang lemah mentalnya menjadi tersinggung dan marah- marah dengan tak ada juntrungannya. Sementara yang tahan bantingan menganggap cemo'ohan itu sebagai cambuk, maka sejak 1908 dengan tekad bulat seperti bulatnya bola sepak PSSI. Bangsa Indonesia tekun belajar untuk mengejar ketertinggalannya. Sampai dengan sekarang, dijaman modern ini, hasil jerih payah itu sudah membuahkan hasil yang gemilang.

Keadaan kecerdasan bangsa kita sekarang sudah tidak bisa dipandang remeh oleh bangsa lain yang lebih dahulu mengalami kemajuannya. Kemajuan pesat cara berpikir dan bertindak bangsa kita lebih unggul dari bangsa lain didunia ini. Hali ini bisa dibuktikan dari hasil karyanya. Semisal dibidang seni melukis, ada Basuki Abdulah, Affandi dan banyak lainnya yang sulit disebutkan satu persatu. Senitari, keberhasilan mengadopsi kisah Ramayana dan Mahabharata. Serta Tari Bali dan seadabreg tari- tarian seni tradisional didaerah lainnya. Seni pidato, kita punya mendiang Bung Karno, Zainuddin MZ, Soeharto, dan yang lain seperti Megawati Soekarno Putri, Susilo Bambang Yudoyono (SBY), dan seterusnya. Dibidang pengetahuan dan teknologi, kita punya BJ Habibi dan ratusan murid- muridnya. Dibidang sastra, kita punya WS Rendra dan yang lainnya. Dibidang hukum dan HAM kita punya Prof. Sahetapi, Mahfud MD, dkk. Dibidang keagamaan, kita memiliki banyak tokoh, seperti Wali Songo pada jamannya, dan tokoh- tokoh agama lain yang banyak dan sulit disebutkan satu persatu.  Pokoknya hampir disemua bidang kehidupan dan kebudayaan kita memiliki figurnya yang berkualitas internasional.

Setelah keadaan semakin maju, produk Tahu dan Tempe diselidiki kandungan gizinya, penelitian mana dipelopori oleh Prof. Sihombing dan yang lainnya, diketahui ternyata bangsa kita itu bisa sangat cerdas justru karena kebanyakan atau memiliki kebiasaan memakan produk protein nabati setiap hari dengan rutin, yaitu memakan Tahu dan Tempe. Berkat makanan tahu dan tempe yang kandungannya kaya akan zat protein, vitamin dan mineral itu. Bangsa yang dulunya meremehkan bangsa kita, yang melihat dengan kacamata minusnya, pada saat kacamata tersebut dilepaskannya, karena merasa tidak percaya kalau kita ini bisa cerdas melebihinya, mereka terbelalak matanya. Baru tau dia! Makanye jangan melihat orang hanya dari balik kaca mata doang.

Karena hebatnya kecerdasan bangsa Indonesia, maka pada suatu hari orang- orang bangsa yang telah berhasil menciptakan mesin otomotif dan Kereta Api, datang ke Indonesia hanya untuk menyaksikan betapa yang namanya Kereta Api yang dibuat pada tahun 20- 30' an itu masih bisa lari kencang dengan enaknya. Padahal dinegaranya sudah jadi barang yang membatu dan sebagian dimuseumkan. Mereka plonga plongo karena terheran- heran, persis kayak Tarzan masuk kota. Tidak habis pikir, mengapa Kereta Api setua itu masih bisa eksis! 

Belum lagi kalau seandainya diperlihatkan tentang hasil karya modifikasi motor. Merk dan tahun baheula masih jreng dan seger meger, tidak kalah dengan buatan Merk dan tahun yang baru. Ini karena pandainya bangsa kita, ngoboh motor. Ya mengoboh atau mempreteli sekalipun, kalau disentuh oleh tangan- tangan terampil sodara- sodara kita yang jenius, Motor bisa disulap menjadi barang yang menarik. Artistik, nyentrik, nyeleneh dan gendeng, ada semua modelnya. Huiii!

Pendek kata, bangsa kita ini disuruh bikin apa saja serba bisa, seperti kerajinan anyam- anyaman, kayu, apalagi.. pokoknya semuanya menjadi beres dan ok sekali. Apa kira- kira yang kurang dari penampilannya ini, kira- kira ? Heh.. cari sendiri saja yah! He he he .....

Akan tetapi, semua hal itu ternyata ada 'some things wrong' nya. Apa itu? Ini ada beberapa contoh menarik. Tentang produk Tempe itu sendiri. Ternyata Hak Patennya dimiliki oleh bangsa Jepang. Jadi kalau kita mau menjual produk Tempe keluar negeri harus ijin dulu ke orang Jepang. Ha ha ha... keadaan yang lucu tapi jadi tidak lucu. Dan sebenarnya banyak contoh lain yang serupa tapi tak sama.

Mengapa bisa demikian ya? Ini yang perlu sedikit dicermati. Dari hasil pengamatan saya secara sporadis, ternyata bangsa kita itu kelemahannya adalah antara lain, sangat egois. Individual sifatnya. Tidak senang kalau temannya lebih unggul darinya, lalu dijegal dengan segala cara. Padahal rahasia sukses itu, menurut orang Jepang terletak pada sejauh mana kerjasama bisa dilakukan dalam berkarya. Resef kerjasama yang baik dan sangat solid inilah yang membuat bangsa Jepang menguasai dunia industri, menjadi Negeri Raksasa Industri. Mengalahkan bangsa Amerika yang cerdik tapi individual hampir sama kayak orang Indonesia. Beda sedikit, kalau orang Amerika menemukan dan membuat sesuatu yang baru. Orang Indonesia mengobohnya (mengubah) barang baru atau lama menjadi desain yang lebih menarik. Bondo cupet jadi nekad (bonek) kale.....

Sifat individualis ini dibawa- bawa sampai kemana- mana oleh orang- orang kita. Semisal ketika sodara kita berhasil dibidang pengobohan motor, lalu jadi kaya dan sukses. Ia mencoba nyaleg dan berhasil. Maka kini ia duduk sebagai anggota atau ketua suatu departemen di DPR. Ketika ada forum rapat biasa atau paripurna, jadinya ruang sidang ramai kayak suara motor- motor yang meraung- raung. Mereka saling tuding dan mempertahankan pendapatnya sendiri- sendiri. Arus pembicaraan menjadi simpang siur, kata orang jawa, rapatnya jadi saur manuk ( kayak suara burung berkicau-- yang penting kicauannya sendiri yang terdengar) 

Kesimpulannya adalah bahwa, bangsa kita ini sesungguhnya adalah bangsa yang cerdas, entahlah mungkin karena banyak mengkonsumsi produk Tahu dan Tempe itu mungkin, bisa saja kejadian. Andaikata saja, kita itu bisa berkoordinasi atau bekerjasama lebih baik sedikit saja, maka mungkin kita akan menjadi bangsa yang sudah lama maju lebih dahulu. 
   

Rabu, 27 Juli 2011

Kakak Beradik Poniman dan Ponimin

Setiap hari kedua bersaudara ini, layaknya dua orang sahabat. Kemana pergi selalu bersama. Kali ini mereka sedang duduk- duduk diteras rumah sambil minum kopi. Hawa diluar rumah terasa sejuk. Matahari mulai condong kebarat. Pada sore hari ini mereka tampak santai.

Poniman duduk bersila diatas tikar bututnya. Menghadap halaman depan yang penuh dengan Bunga- bunga lokal. Sebagai saudara tua umurnya dua tahun lebih tua dari Ponimin, adiknya yang berpenampilan bak seorang seniman. Karena rambutnya yang panjang tergerai dibahunya, yang kini duduk dibibir teras disebelahnya. Mereka duduk bersila berhadap- hadapan.

Keduanya asyik membicarakan masalah situasi yang makin menghangat saja, yaitu tentang apalagi kalau tidak masalah gegernya para elit politik dinegeri ini. Dialog pembicaraan mereka antara lain sebagai berikut.

Poniman : Min menurut kamu sekarang bagaimana!
Ponimin : Apanya yang bagaimana Man!
Poniman : Oh ya.. itu lho, tentang rencana Pelaksanaan Pemilu 2014. Apa bisa fair ya?
Ponimin : Ach, masih lama Man pemilunya.
Poniman : Lhoh .. kamu nih gimana! Partai Baru dah bermunculan. Siap- siap ikut pemilu.
Ponimin : Biar aja. Kita kan bukan anggota partai manapun juga. Kita cuma orang desa, tani.
Poniman : Iya juga sih! Tapikan kita juga harus mikir- mikir kemana nanti aspirasi kita berikan.
Ponimin : Tuk apa dipikirin. Lha wong semua partai sama saja. Semua kisruh sama sendirinya.
Poniman : Tapi kan ada partai baru nih, seperti Nasdem, Nasreb, dan lain- lainnya.
Ponimin : Tak urus, walau ada partai Nazir! Apa tuh Nazaruddin.. ya ya, yang lari keluar negeri.
Poniman : Iya knapa dengan dia! Nasar- nasar ngga keruan ya. Itukan membela diri dia!
Ponimin : Membela diri apaan! Kalau memang dia benar, knapa datanya tak dikirim ke KPK aja.
Poniman : Ya.. akhirnya kan nanti dikirim kesana juga. Biar masyarakat tahu dan rame dulu.
Ponimin : Ya ngga bisa begitulah. Kan nanti bisa dikatakan fitnah.

Demikianlah antara lain, debat dua saudara kandung yang sama- sama suka dan pedulinya mengikuti perkembangan situasi politik di negeri Ratna Mutu Manikam ini. Untuk cerita lebih lanjut tentang apa saja yang diperbincangkan, akan dimuat lagi diwaktu yang akan datang. Ya, di Blog Celoteh- celoteh ini.

Minggu, 24 Juli 2011

Jiwa Wira Usaha Tetanggaku Patut Ditiru

Ditengah- tengah kemelut ekonomi yang tidak menentu seperti sekarang ini, seorang tetanggaku berhasil mengatasi kesulitan kehidupan ekonominya. Kiat yang dilakukannya dengan cara bercocok tanam buah Lombok didalam Pot. Ketika harga lombok meroket baru- baru ini, ia memperoleh keuntungan yang lumayan. Selain memperoleh dana untuk biaya hidup sehari- hari dan biaya sekolah anak- anaknya, tetanggaku yang bernama pak Somad (bukan nama sebenarnya) juga dapat membeli perlengkapan tambahan untuk bertani lombok.

Menurut pak Somad diriya padahal tidak memiliki ladang sepetakpun. Ia terinspirasi oleh sebuah Majalah yang kebetulan dibacanya saat sedang mengantri giliran cukur rambut. Ditempat Tukang Cukur rambut langganannya memang suka menyediakan bacaan- bacaan agar lagganannya tidak jenuh menunggu giliran cukur rambut.


Pak Somad menyemaikan bibit lomboknya disuatu media tanah yang lembab. Ketika sudah dirasa cukup usia, kecambah pohon lombok dipindahkan kedalam Polibag yang cukup leluasa untuk pertumbuhan pohon lomboknya.

Pot- pot yang telah berisi tanaman lombok ini ditaruh dihalaman rumahnya. Bisa disamping rumah, dibelakang rumah dan pokoknya ada lahan kosong dihalaman rumahnya itu, ia isikan tanaman pohon lombok ini, katanya. Setiap pagi dan sore dikontrolnya. Disiram dan diberi sedikit pupuk kandang.

Ketika ratusan pohon lombok berbunga dan berbuah, tampak indah seperti pohon bunga hias, pak Somad melanjutkan ceritanya kepadaku. Kemudian lombok dipanennya. Hati pak Somad gembira sekali, karena produk hasilnya tak kalah lebatnya seperti menanam diladang. Kualitas buah lombok juga baik dan segar.

Nah maka ia tak ragu- ragu untuk memanggil seorang pedagang lombok untuk melihat dan menawar tanaman lomboknya. Transaksi terjadi. Pak Somad langsung kini, banyak uangnya.

Sabtu, 16 Juli 2011

Menolong Orang Terluka Tanpa Patirasa

Pada tahun 1982 -- 1983 yang silam aku punya pengalaman unik, yakni menolong seorang yang terluka kakinya akibat tertelusup pangkal kayu pohon Jagung pada telapak kakinya. Ia sehari- harinya bekerja menjajakan Bakso didesanya. Namanya, Pak Djaelani (bukan nama sebenarnya), berusia sekira 35 tahun. Tinggal didesa Banyuputih Lor, kecamatan Jatiroto - Kabupaten Lumajang.

Pada suatu sore, sekira pukul 14.30 salah seorang keluarganya yang memang sudah kukenal itu datang meminta bantuanku untuk merawat Pak Djaelani. Memang pada tahun- tahun itu aku pernah bekerja disatu Instalasi kesehatan yang khusus menangani luka- luka.

Setelah aku sampai dirumah Pak Djaelani, aku langsung melihat lukanya. Aduh.. keluhku dalam hati. Ternyata kakinya bengkak sekali. Pantesan Pak Djaelani mengerang terus.

" Ia kesakitan selama dua hari ini pak ", kata salah seorang keluarganya memberi keterangan kepadaku.

" Oh ya?! ", jawabku, lalu aku bertanya kepada Pak Djaelani.

" Tadinya kena apa ini pak? ", sembari membuka balut kain kumal dilukanya.

" Kena sunggrak kayu pak ", jawabnya singkat sambil wajahnya menyeringai menahan sakit.

Kubuka semua kain pembungkus lukanya, dan tampak ada benda hitam yang ternyata kayu yang menelusup kedalam daging masih tinggal didalam luka.

Kemudian kujelaskan kepada orang- orang, sanak familinya yang kebetulan ramai berdatangan kerumah Pak Djaelani. Mereka memang begitu adatnya. Kalau ada satu yang sakit maka hampir semua famili dan tetangga didesa yang sebagian besar masyarakatnya bersuku Madura tersebut, berdatangan berkunjung bergiliran.

Kukatakan bahwa luka Pak Djaelani ini harus dibongkar untuk mengambil kayu yang menelusup. Semua orang terdiam memandangiku. Tapi keluarga Pak Djaelani menyetujui rencanaku untuk membongkar luka infeksi dikaki itu.

Tapi, apa lacur.. ketika aku merogoh- rogoh tas perlengkapan alatku, tak kutemukan obat Patirasanya. Wah.., kataku dalam hati. Celaka inih!. Aku memutar otak. Berpikir keras, bagaimana jalan keluarnya.

Sementara itu Pak Djaelani mengerang terus. Agaknya ia merasa takut tambah sakit kalau lukanya nanti ditolong. Diam- diam kuperhatikan lukanya yang meradang bengkak dan memerah itu tidak mungkin untuk diberi obat patirasa lokal.

Tiba- tiba aku punya ide. Bagaimana kalau Pak Djaelani ini di hypnotis saja untuk mengendalikan nyeri lukanya? Sementara aku bisa merawat lukanya dengan tenang!.

..... Bersambung.

Rabu, 29 Juni 2011

Relevansi Politik Pencitraan

Panggung Politik dinegeri ini seakan sedang berlomba untuk berebut posisi yang baik dimata rakyat yang makin melek politik. Tentu saja yang dimaksud pada tulisan ini adalah yang dilakukan oleh orang- orang yang berkecimpung didunia politik. Kalau pada beberapa tahun lalu dimana rakyat belum begitu tahu dan atau memang tak mau tahu tentang politik, mungkin bisa saja mengelabuhi mata dan hati rakyat dengan gaya pencitraan diri ketokohan dalam kontes kepemimpinan.

Tapi sekarang rakyat tidak butuh samasekali dengan politik pencitraan yang ditonjol- tonjolkan. Perkara citra itu sendiri, akan muncul dengan sendirinya, bergantung dari sepak terjang yang dilakukan. Apabila bagus perjuangannya maka secara paralel citra itu akan ikut dan melekat pada diri tokoh tersebut. Sebaliknya apabila perjuangannya hanya retorika yang sulit sekali dilihat hasilnya pada tataran operasional maka walaupun seribu kali upaya pencitraan dilakukan, ya tetap saja citra diri tidak akan baik, malahan merosot tajam menjadi citra buruk yang diperoleh.

Rakyat sekarang butuh kepemimpinan operasional, butuh pemimpin situasional yang memiliki rencana strategis fleksibel dan benar- benar sesuai dengan realita kenyataannya dilapangan. Memang perencanaan musti dibuat dibelakang meja, ketika hasil survey usai dilakukan. Namun untuk dapat menggerakkan apa yang direncanakan tentu harus memiliki perencanaan strategis yang bernapaskan realita, sehingga dapat menerobos keadaan dengan implementasi perencanaan yang telah dibuat secara tepat dan cepat, bak Jarum Kompas yang selalu peka terhadap situasi yang terjadi. Tindakan segera dilakukan sesuai kebutuhan untuk mengatasi permasalahan dengan tahapan yang tuntas.

Jikalau jarum kompas yang dijadikan alat kontrol hanya berputar- putar terus tanpa bisa menunjukkan situasi yang terjadi, maka boleh dikatakan jarum kontrol tersebut sudah rusak dan perlu diganti dengan yang baru. Bagaimana bisa bekerja kalau tidak paham terhadap situasi yang berkembang dan terus bergerak. Hal ini bisa terjadi karena pemimpin hanya duduk dibelakang meja, tak pernah turun lapangan. Hanya pasif terima laporan yang dibisikkan dengan cara klasik, asal bapak suka. Pembisik- pembisik yang hanya carmuk (cari muka) justru akan merusak apa yang dinamakan 'citra' tadi.

Sekarang, apabila kita menganut cara pikir bahwa tidak ada istilah terlambat, maka cepatlah berubah. Segeralah mengubah mindset menjadi figur pemimpin yang melayani. Bukankah apa yang disebut kepala harus melayani anggota tubuh? Jadi barang siapa yang ingin menjadi pemimpin harus bersedia dengan sungguh- sungguh mau melayani kepentingan yang dipimpin, yakni para anggota, ya publik- rakyat ini, semuanya.

Minggu, 15 Mei 2011

Dari Bola Sepak menjadi Bola Api

Perjalanan alot permasalahan pemilihan ketua umum ditubuh PSSI berlanjut terus sampai dengan hari ini. Masyarakat luas makin sebal melihat perkembangan penyelesaian kemelut diintern organisasi PSSI yang merupakan organisasi olah raga milik seluruh rakyat Indonesia ini. Bahkan sampai ada yang gusar setelah mendengar dan melihat berita dari beberapa media massa dan akhirnya turun jalan dan turun jalan lagi, memprotes agar mencari solusi terbaik dengan membersihkan pengurus PSSI yang bermasalah tetapi masih bertahan. Masalahnya kini apakah harapan masyarakat luas tersebut bisa terpenuhi?

Kalau dicermati sungguh- sungguh ternyata tidak seperti tampak sekedar mengurusi bola sepak saja namun persoalan lebih kepada memperebutkan posisi- posisi non teknis yang strategis. Karena masalah supremasi olah raga sepak bola yang dalam permainannya bola disepak ini sudah hampir mengungguli simbul- simbul suatu negara. Artinya kegiatan sepakbola-nya yang lebih dikenal masyarakat dunia daripada nama negaranya sendiri. Semisal Juventus, Barcelona, Ac Milan, dan lain- lain. Bukankah hal ini merupakan contoh yang jelas bahwa pada dasarnya mengurusi bola sepak tak ubahnya seperti mengurusi kemelut negara. Tak menutup kemungkinan dan tak dapat disalahkan kalau akhirnya awam mengatakan bahwa yang diurusi bukan sekedar mengurusi bola sepak namun juga akhirnya menjadi bermain bola api.

Konflik kepentingan dalam mengurus bola api akan merambah kebidang lainnya, seperti politik, ekonomi dan sosial. Maka itulah sering mencuat statement oleh pengamat bola bahwa janganlah mencampur adukkan penyelesaikan masalah sepakbola dengan kekepentingan politik tertentu. Karena apabila mengurusi bola sepak berubah menjadi bola api tidak akan pernah segera selesai.

Kita harus segera tersadar dan menahan diri karena masalah bangsa ini bukan sekedar mengurusi sepakbola saja, tetapi banyak masalah lain yang juga meminta perhatian serius. Masalah kemiskinan, masalah kesehatan, masalah pendidikan dan lain- lain bidang yang sesungguhnya hampir semua bidang sekarang sedang punya masalah dinegeri ini. Peran pemegang otoritas negeri ini pada awalnya memang bisa dimaklumi jikalau berposisi pada sikap wait and see. Namun pada situasi dan kondisi seperti sekarang dimana bola sepak bak telah menjadi bola api, hendaknya janganlah dibiarkan. Ambilah sikap tegas yang bisa diacu, syukur- syukur bila bisa ditemukan penyelesaian masalah dengan win- win solution.